R.I.P “Asep Rahman Hudaya”
Sangat berat rasanya mengisahkan kembali sahabat yang satu ini, setidaknya butuh dicatat, untuk mengingatkan kita akan pernah kehadirannya.
Hari itu saat pertama kali masuk ke Pesantren Cibegol, ada rasa takut yang menyelimuti saat orangtua mulai menjauh seakan kita ditinggal dalam kegelapan yang sangat “Poek Mongkleng”, masuk dalam ranah yang sangat menggelikan. Masuk dalam situasi segala antri, yah, rasanya kalian semua akan gampang mendeskripsikan bagaimana rasanya menurut pandangan masing-masing. Keadaan yang baru menuntut kita menyesuaikan dengan lingkungan serta mencari teman baru guna mengarungi kehidupan yang lebih bermakna.
So kenal adalah hal yang paling bisa diandalkan untuk mencari teman, begitupun yang aku alami dan aku lakukan, dengan modal sebungkus coklat aku tawarkan kepada mereka, termasuk Almarhum, hingga terjadilah persahabatan yang kentara dan syarat akan arti.
Pribadi yang sedikit kumuh, berambut ikal, bermata tajam, cara jalannya yang khas, alis tebal mencerminkan pribadi yang sangat cerdas. Dia memandangku dengan tajam, menjabat tanganku dengan cengkeraman yang erat,
“Hai Broh, Urang Asep, hehe, Maneh saha ?” sergapnya,
Aku pun menyebutkan nama, lengkap beserta alamat, status, tak lupa ku serahkan profil lengkap dalam sebuah kertas biodata yang sewaktu SD sering menghiasai waktu-waktu kosong dengan mengisinya. Tak lama berselang dengan pembicaraan yang tak tentu arah kami menyusuri sebuah lorong yang mengantarkan kami ke kelas. Karena beberapa hari lebih awal masuk pesantren, dia memperkenalkan ku ke teman-teman yang lain, sehingga suasana pun mulai ramai.
Persahabatan kami begitu erat, bahkan Houdini sekalipun tak bisa melepaskannya, hingga suatu ketika, saat kami akan menghadapi kenaikan kelas 2, Asep tak seperti biasanya, keganjilan memang sudah terasa saat hari-hari ulangan berlangsung, ada yang aneh dari badannya, pipinya membengkak, matanya belotot dan dia terlihat murung. Dan seolah seperti mengasingkan diri. Nampaknya, ada beban yang menyelimutinya
Beberapa hari tak ada kabar darinya, kamipun tak ada perasaan untuk sekedar menengoknya bahkan tak tercium pirasat buruk hal yang akan menimpanya. Saat itu H-1 menuju haflah imtihan. ada berita yang sangat menyentak dan menggugah alam sadar berita yang kami dengar seperti khayalan belaka namun nyata adanya, sebuah berita kepergian Asep. Seolah tak percaya akan berita yang datang, kalian pasti tak akan menyangka, akupun demikian, kepergiannya begitu cepat. Itulah keputusan Tuhan, siapa yang tahu.
Sepanjang perjalanan ke pemakaman, aku sibuk mengingat hal-hal yang pernah ku alami bersama. Teringat saat rumahnya menjadi muara pertama saat kejenuhan melanda, sifat konyolnya menjadi ramuan kala pikiran ini buntu, sikap arogan dan pembelanya menjadikan kita merasa terlindungi. Ah, sudahlah, apa yang aku pikirkan, namun, mata ini tak bisa mengelak saat harus mencucurkan tanda haru yang amat menyakitkan. Saat membahas perihal, beberapa hari sebelum kepergiannya tak banyak yang kami pertanyakan, kami hanya percaya itulah keputusan terbaik Tuhan untuknya.
Pagi ini tepatnya, setelah enam tahun kepergiannya, ada ingatan sekalipun tempat kita dengannya sudah berbeda, dia tetap menjadi bagian dari kita, bagian dari kita.
#Hamba ALL0H

