Rabu, 01 Juli 2015

                                                  R.I.P “Asep Rahman Hudaya”

Sangat berat rasanya mengisahkan kembali sahabat yang satu ini, setidaknya butuh dicatat, untuk mengingatkan kita akan pernah kehadirannya.
Hari itu saat pertama kali masuk ke Pesantren Cibegol, ada rasa takut yang menyelimuti saat orangtua mulai menjauh seakan kita ditinggal dalam kegelapan yang sangat “Poek Mongkleng”, masuk dalam ranah yang sangat menggelikan. Masuk dalam situasi segala antri, yah, rasanya kalian semua akan gampang mendeskripsikan bagaimana rasanya menurut pandangan masing-masing. Keadaan yang baru menuntut kita menyesuaikan dengan lingkungan serta mencari teman baru guna mengarungi kehidupan yang lebih bermakna.
So kenal adalah hal yang paling bisa diandalkan untuk mencari teman, begitupun yang aku alami dan aku lakukan, dengan modal sebungkus coklat aku tawarkan kepada mereka, termasuk Almarhum, hingga terjadilah persahabatan yang kentara dan syarat akan arti. 
Pribadi yang sedikit kumuh, berambut ikal, bermata tajam, cara jalannya yang khas, alis tebal mencerminkan pribadi yang sangat cerdas. Dia memandangku dengan tajam, menjabat tanganku dengan cengkeraman yang erat, 
“Hai Broh, Urang Asep, hehe, Maneh saha ?” sergapnya,
Aku pun menyebutkan nama, lengkap beserta alamat, status, tak lupa ku serahkan profil lengkap dalam sebuah kertas biodata yang sewaktu SD sering menghiasai waktu-waktu kosong dengan mengisinya. Tak lama berselang dengan pembicaraan yang tak tentu arah kami menyusuri sebuah lorong yang mengantarkan kami ke kelas. Karena beberapa hari lebih awal masuk pesantren, dia memperkenalkan ku ke teman-teman yang lain, sehingga suasana pun mulai ramai.
Persahabatan kami begitu erat, bahkan Houdini sekalipun tak bisa melepaskannya, hingga suatu ketika, saat kami akan menghadapi kenaikan kelas 2, Asep tak seperti biasanya, keganjilan memang sudah terasa saat hari-hari ulangan berlangsung, ada yang aneh dari badannya, pipinya membengkak, matanya belotot dan dia terlihat murung. Dan seolah seperti mengasingkan diri. Nampaknya, ada beban yang menyelimutinya 
Beberapa hari tak ada kabar darinya, kamipun tak ada perasaan untuk sekedar menengoknya bahkan tak tercium pirasat buruk hal yang akan menimpanya. Saat itu H-1 menuju haflah imtihan. ada berita yang sangat menyentak dan menggugah alam sadar berita yang kami dengar seperti khayalan belaka namun nyata adanya, sebuah berita kepergian Asep. Seolah tak percaya akan berita yang datang, kalian pasti tak akan menyangka, akupun demikian, kepergiannya begitu cepat. Itulah keputusan Tuhan, siapa yang tahu. 
Sepanjang perjalanan ke pemakaman, aku sibuk mengingat hal-hal yang pernah ku alami bersama. Teringat saat rumahnya menjadi muara pertama saat kejenuhan melanda, sifat konyolnya menjadi ramuan kala pikiran ini buntu, sikap arogan dan pembelanya menjadikan kita merasa terlindungi. Ah, sudahlah, apa yang aku pikirkan, namun, mata ini tak bisa mengelak saat harus mencucurkan tanda haru yang amat menyakitkan. Saat membahas perihal, beberapa hari sebelum kepergiannya tak banyak yang kami pertanyakan, kami hanya percaya itulah keputusan terbaik Tuhan untuknya.
Pagi ini tepatnya, setelah enam tahun kepergiannya, ada ingatan sekalipun tempat kita dengannya sudah berbeda, dia tetap menjadi bagian dari kita, bagian dari kita.

#Hamba ALL0H 

Selasa, 30 Juni 2015

Hidup seperti sebuah kertas yang masih polos tanpa sebuah tinta  awal kehidupan seperti telur yang berada di ujung taduk. Sebuah kisah dan realita kehidupan  seperti tulisan yang di karang penulis. Aku bagaikan samudra yang lantang terdengar ,bagiku hidup ini seperti lukisan dan hanyalah imaji seseorang pengarang . sudah lama aku berada dalam kabut senja  dan hanya di temani ilusi mimpi .bukankah sebuah kepahitan hidup yang di alami seorang yang memiliki moto hidup bagi samudra,tetapi orang yang memiliki samudra adalah orang yang memiliki lukisan yang abadi., aku hanya dapat mendengar tapi tak dapat arti rasa itu .
Sore itu saat semua barisan mata tertutup diantara bilik kamar , aku mendengar jeritan mereka “ suara kemana aku berlari” sahut guraman suara hatiku yang mendengar jeritan itu. Suasana saat itu seperti di tutupi kabut  merah. aku hanya dapat mendengar tapi tak dapat arti rasa itu. Bagiku hanyalah sebuah jeritan yang terkadang sulit untuk di pahami . lalu sesaat hilanglah  suara jeritan itu dan tiba-tiba suara  tangis terdengar. Apa makna ini semua?pertanyaan itu muncul lagi dari hatiku . setelah beberapa saaat aku terdiam,  dan memutuskan untuk menghilang  dari kabut merah yang mencekam hatiku.
Sudahlah lupakan pertanyaan yang membuatku menelan duri. Terkadang akupun ragu untuk memikirkan sesuatu , hidup ini memang sebuah teka-teki jika aku salah langkah maka akan besar akibatnya. Akupun melangkah menuju ke sebuah jalan, tapi jalan ini menghantarkan ku  pada sebuah gemerlapnya dunia malam  .. aku mendengar suara mereka yang di iringi lampu yang berdendang. Menurutku mereka itu seperti  menelan jeruji besi sungguh malang yang mereka lakukan. Akupun tidak dapat menerka dengan semua ini. Bagiku hanya sebuah kiasan kata  yang mereka nikmati dan hanya mereka yang mengakhiri “ ya Alloh untuk apa kau menciptakan dunia ini?” kata ku sambil meneteskan air mata. Sudahkah mereka fikirkan akhir kehidupan dunia ini?. Tapi tetaplah hidup membuat kehidupan yang  nyata dan dibalik sisi  ada sebuah rahasia yang belum terungkap di dalam nya.
 Seiring berjalan nya waktu, aku kembali melangkah menuju sebuah jalan , jalan apakah yang akan ku tempuh delanjutnya, mungkinkah sebuah gambaran yang ingin di ungkapkan penulis pada sebuah episode yang ku lihat. Entahlah, kembali aku mendapat senbuah teka-teki  dalam stiap jalan yang aku hampiri , lalu aku terdampar  pada sebuah lukisan rakyat anai-anai. Kulihat hidup mereka seperti  mendapat siksaan yang amat perih. Di manakah letak keadilan bagi kehidupan mereka?” Tolong kami tidak bisa menghadapi kehidupan ini “ kata beberapa rakyat Anai-anai yang menjerit dan meronta. Kulihat mereka tidak dapat menghadapi setiap kobaran api yang menyala. inikah kehidupan yang sebenarnya ? kata ku dalam pandangan hampa. Di balik sebuah sisi aku melihat sebuah rakyat tikus yang rakus akan makan. “ hidup kami bagai di surga inilah sebenarnya keadilan bagi kehidupan kami “ yang memiliki kekuasaan yang abadi” kata beberapa rakyat tikus yang tertawa gembira. Mereka tidak memikirkan rakyat anai-anai yang menderita. Kembali aku bertanya apakah mereka hanya memikirkan kepuasan mereka ?  lukisan ini memberikanku sebuah kepahitan yang mendalam.
Sudahkah aku mendapat makna tentang lukisan yang kulihat. Akupun masih ragu untuk menerka semua ini . hatiku masih di ambang  kegelisahan yang membuatku sulit menerima semua ini. Mungkin setiap gambaran yang kulihat  mengandung makna samudra  di dalamnya , apakah hidup seperti samudra itu, memiliki cobaan yang sangat sulit di hadapi? Akupun tidak mengerti dengan semua pertanyaan itu. Lalu kembalilah aku di tunjukan pada sebuah gerbang  jalan yang  sangat gelap  bahkan hampir tidak memiliki titik terang di dalam nya, jalan apakah ini ? Tanya ku dengan hati yang takut . lalu untuk apa aku di bawa ke tempat yang hampir membutakan setiap hati dan pikiran.
Mungkinkah ini lukisan yang terakhir dalam setiap perjalanan yang ku tempuh. Kembalilah aku pada sebuah permainan teka-teki yang membuatku bertanya-tanya . sejenak terdiam  lalu saaat itulah aku melihat sebuah kehidupan yang sangat kusam , tak teerlihat kedamaian di dalam nya . mereka seperti singa yang mengamuk bahkan ingin menjatuhkan musuh –musuhnya. Apakah mereka hanya menginginkan kekuasaaan yang abdi ? Tanya ku dengan amarah yng  mendalam” akulah raja  dari segala raja  barang siapa yang ingin bersaing dengan ku maka bersiaplah untuk merasakan kepahitan “ kata raja singa  yang mengaum keras  sepeerti halilintar yang yang menyambar.  Kau pikir tahta mu adalah surga yang abadi. Lihatlah dari segala  penjuru,  kau pun tak sebanding  dengan setetes  air  di samudera yang luas, sungguh tak berarti lukisan yang hanya menggambarkan keekuasaaan belaka.
 Inikah jalan yang akan aku hadapi dari setiap perjalanan hidupku, hidup memang tidak memberikan sebuah jaminan untuk kebahagiaan   yang abadi, Tapi bagi ku hidupku bagai samudra yang tak dapat di samakan  dengan semboyan belaka, aku memandang bagi setiap kehidupan mereka adalah lukisan . lukisan itu hanya membuat kisah pada setiap episode  yang di tayangkan





Senin, 29 Juni 2015

Catatan Fairuz Nabihah

Assalamu’alaikum, salam hangat ya. Terimakasih sebelumnya kepada yang sudah memperkenankan untuk menulis coretan yang tidak penting ini di blog ini.

Kali ini saya hanya ingin membuat sebuah penyemangat saja, yang didahului dengan quote. Yaaa... quote ini saya sendiri yang buat. Memang terlihat sepintas tidak penting. Tapi makna dari quote itu sendiri yang akan membuat kalian berpikir dua kali, membacanya lagi dan membacanya lagi sehingga kalian dapat mengerti makna dari quotes tersebut.

Okay... kita mulai

DONT WASTE YOUR TIME, IT’S YOUR BIG CHANCE.

Kamu tahu? Waktu...? yaa.. waktu. Setiap langkah yang kita lalui terdiri dari waktu. Waktu sangatlah penting, tanpa adanya waktu kamu tidak akan bisa apa-apa. Artinya, gunakanlah waktumu sebaik mungkin, karena waktu merupakan kesempatan yang tinggi. Hargailah waktu. Karena kalian tahu bahwa waktu takkan bisa berputar dan diputar kembali. Maka dari itu apa kita bisa menggunakan waktu dengan tepat? Menggunakan nya sebagai kesempatan yang masih terbuka lebar untuk melakukan apa yang takkan kita sesali nanti ketika semua sudah terlewati. Yaa memang sulit untuk terpikir bahwa waktu merupakan kesempatan berharga yang akan nanti kita sesali bila tidak digunakan dengan tepat. So... don’t waste your time J because your time is your big chance.

Terima kasih.

Dan jangan lupa follow ig fairuzzznab sebagai part of Lumina Management ya J xixi 

Jumat, 26 Juni 2015

Catatan Vera

Me-nu-lis

“Karena satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, namun satu tulisan mampu menembus jutaan kepala manusia”. - Sayyid Quthb -

Time flies so fast...

Tidak terasa, saat ini kita telah menginjak tahun kedua setelah kelulusan. Waktu memang begitu, mereka tidak pernah menua meski berhasil membuat tua kehidupan. Lihat, dentangnya masih setangguh para mujahid di medan perang, berjalan dengan lantang sambil membawa pedang  yang siap menebas apa saja yang menjadi kehendak Tuhan. Jadi, bagaimana kabar kalian? Ada ucapan ‘salam rindu’ dari Semarang.

Sebagai negara berkembang, kemajuan teknologi dan informasi di Indonesia memang sangat pesat. Hal inilah yang dijadikan momentum bagi negara-negara maju untuk terus “menenggelamkan” Indonesia dalam  zona nyaman yang disebut terlelap. Terbukti hingga saat ini, masyarakat Indonesia hanya bisa menjadi “pecandu” dari segala kemudahan bin kepraktisan kemajuan teknologi tersebut. Salah satu “nina bobo” dari negara maju adalah media yang saat ini sedang kita gunakan. Sederhana memang, berawal dari sebuah penggunaan namun bisa berubah menjadi ketergantungan.

Bukankah tidak selamanya pedang membahayakan? Sisi lain dari kegunaan pedang adalah mampu melindungi pemiliknya. Tentu saja hal ini tidak semudah sebuah pedang menjadi berbahaya, perlu adanya pengendalian dan pelatihan sebelum akhirnya pedang tersebut mampu memberikan perlindungan bagi pemiliknya.

Sama halnya dengan kemajuan teknologi saat ini, jika kita mampu menggunakannya sebaik mungkin, maka akan memberikan manfaat yang melebihi kadar negatifnya. Jika negara maju menjadikan hal ini sebagai kesempatan untuk menguasai dunia, mengapa tidak kita jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk menaklukkan dunia?

Inilah yang selalu saya kagumi dari kalian, tanpa diduga-duga blog angkatan kita lahir membawa tujuan yang begitu hebat. Di tengah remaja lain menghabiskan waktunya untuk melakukan hal tidak penting melalui media, kalian malah menggagas sebuah keadaan kearah yang lebih bermakna. Terima kasih.

Di awal tadi saya sempat mengutip ucapan Sayyid Quthb, ada yang tahu tentang beliau? Kalau belum, silakan jelajah ilmu pengetahuan melalui media yang ada, hehe. Namun sebenarnya bukan identitas Sayyid yang akan saya sampaikan, melainkan ucapannya terlepas dari sepak terjangnya di Al-Qaeda (merinding tiba-tiba).

Menulis, pekerjaan istimewa yang kerap dianggap sederhana bagi sebagian orang. Ketika lisan tidak sanggup untuk mengungkapkan segalanya, maka menulislah. Manusia memang diberikan anugerah lebih dengan kemampuan berkomunikasi. Namun, tidak semua keadaan mampu dikomunikasikan oleh manusia. Pada beberapa titik manusia akan memilih diam dan hanyut dalam kedaannya (lalu galau tiada terkira). Pada keadaan seperti inilah kalian bisa menulis, mengungkapkan ganjal yang membesar dalam dada dengan merefleksikannya ke dalam kata-kata. Atau, ingin berbagi ilmu namun masih belum berani ?, maka menulislah dan sebarkan sebanyak yang kalian mau.   Mudah bukan?

Terlepas dari apapun itu, bagi saya menulis adalah ekspresi. Jika banyak orang yang memilih berbagai cara untuk menikmati hidup, maka menulis adalah cara saya untuk menikmati hidup. Apa pun itu, di mana pun itu, atau bagaimana pun itu, menulis juga merupakan cara saya untuk mengabadikan rasa. Selain itu, bagi saya, menulis juga soal permainan meninggalkan jejak, maka sebanyak apa jejak yang akan saya tinggalkan sebelum kembali pada pangkuan Ilahi Rabby?

Jadi, kapan kita mulai menulis? Bergeraklah saudaraku, ayo bangun! Bukankah suatu pekerjaan akan lebih terasa menyenangkan jika dilakukan secara bersama-sama? Mari menulis bersama, kita manfaatkan blog angkatan ini dengan baik dan berhenti menjadi bangsa Indonesia yang “terlelap”.

Sekian yang ingin saya sampaikan untuk saat ini. Semoga tidak terlalu terlambat.

Rabu, 24 Juni 2015

Malaikat Penolong

Malaikat penolong, mungkin itulah "titel" yang pantas disandang oleh mereka. Sosok ini pertama kali saya temukan saat masuk Pesantren 34 Cibegol. Memang benar, teman-temanku disana sangat luar bisa, Mereka baik, perhatian, kocak, soleh (mungkin), dan sedikit tak waras.

Namun sosok ini bukan salah satu di antara temanku ini, bukan juga mereka, yang dengan kebesaran hati, senantiasa mencurahkan waktu dan tenaga nya, hanya untuk menjadikan kita generasi yang lebih baik dari mereka, jasa mereka takkan pernah terbayar oleh apapun. Karena waktu yang seharusnya mereka pakai untuk bekerja atau mencari nafkah untuk menghidupi keluarga seperti kebanyakan orang, malah mereka pakai untuk mendidik kita. Namun sosok ini adalah dia yang rela bangun lebih pagi hanya untuk membuatkan jajanan bagi kami santri RG.

Dia sering kami sebut dengan panggilan "Mak Aas". Mungkin sebagian santri menganggap dia ini hanya penjual biasa, tapi menurutku dia sosok yang memegang andil besar bagi pesantren kami. Mengapa? karena 95 % dari kami santri RG adalah jenis manusia yang buruk dalam manajemen keuangan. Uang dari mamah untuk satu bulan, ada yang habis dalam tempo dua minggu, seminggu, tiga hari, dan bahkan ada yang yang bulanan nya itu hanya melintas saja, ini yang paling extreme.

Lalu, setelah langkah meminjam uang teman dan uang SPP tak menutupi, kami pun merasa frustasi. Konsentrasi belajar kamipun buyar, karena perut yang tak terisi. Nah, dan saat kami berada di ambang kehancuran seperti ini. Dia dengan kerelaan hati nya membantu kita, membolehkan kita mengambil dulu makanan nya, tanpa mematok batas kita hanya boleh mengambil berapa.

Dia tidak memandang harus seperti apa orang yang boleh mengambil. Padahal, mungkin saja diantara kami ada yang berperilaku buruk, namun dia menghiraukan itu semua, karena hati nya tulus ingin membantu kami para mujahid yang sedang berjihad.

Tak hanya itu, terkadang saat kami sedang ngumpul nongkrong di tempat nya sambil bercerita tentang keluh kesah kami. Tak jarang dia ikut "nimbrung" memberikan nasihat nya agar kami dapat menjadi manusia yang "paham". Sehingga kamipun sudah menganggapnya sebagai ibu kami.

Berkat jasanya pula, kegiatan belajar kamipun dapat berlangsung dengan khidmat kembali, tanpa harus repot-repot memikirkan si perut. Sehingga akhirnya sekarang kamipun telah menjadi manusia yang berbakti kepada agama dan orang tua.

Sebelum nya aku mengira, sosok seperti itu hanya ada satu, tapi sudut pandanganku berubah saat aku ngekost di kelas tiga Muallimien. Disana akupun menemukan ibu warung yang kebaikannya hampir sama seperti Mak Aas. Yang membuatku kaget, sampai sekarang aku bekerjapun, sosok seperti itu aku temui lagi.

Hingga sampai lah aku pada suatu kesimpulan, bahwa Allah telah menaburkan malaikat penolong-Nya dimana-mana, saya berpikir hal itu di tunjukkan betapa sayangnya Dia terhadap hamba-Nya, juga agar kita tidak memiliki rasa "hariwang" dalam diri kita, selama kita mengimani-Nya, serta menjalankan ibadah kepada-Nya.

Sekian dari saya, dan maaf jika anda menyesal telah mengeluarkan waktu anda hanya untuk membaca tulisan seperti ini. Hehehe


Jakarta, 25 Juni 2015,

Fajri Awaludin,

Secerca masa lalu untuk masa depan

Ketika tahun 2007, kelulusan diniyyah tepatnya. Rasanya senang sekali karena akan segera melanjutkan pendidikan ke pesantren Cibegol. Kenapa ke cibegol? Karena salah satu guru di sana adalah pamanku, dia mengatakan kalau Cibegol itu bagus, bagus dalam ilmu yang di sampaikan serta pencetak generasi yang hebat. Karena juga di Cibegol ada kakak kandungku yang sudah dulu belajar di sana dan sering menceritakan keasyikan tinggal di asrama.

Singkat cerita, hari yang di nantipun tiba, walau belum masuk asrama tapi masih di dugdag (itu sebutan lain dari kata pulang-pergi) kini saya sudah jadi santri Cibegol walau masih jenjang paling bawah yaitu "tajhiziyah" ketika sampai di sekolah kakak saya pun menghampiri sambil mengatakan: "meni teu leres d khoas teh" (maklum anak baru kan !), dan di hari itu pun saya diperkenalkan dengan adik angkatnya teteh (itu yang selalu di sebut keluarga ketemu gede di asrama) hari-haripun saya lalui dengan kepolosan diri, semakin mengenal Cibegol seperti apa dan mengenal teman-teman seperjuangan.

Kini saya menginjak jenjang "Tsanawiyyah" dan waktunya saya merasakan tinggal di asrama, bukan hanya mengandalkan "katanya"...oh ternyata seperti ini tinggal di asrama jauh dari ayah dan mamah namun kita punya keluarga baru d asrama, Kebersamaanpun mulai terasa ketika kita saling mengenal dan saling mengetahui karakter seseorang.

Rutinitas yang wajib di jalani;
Diawali subuh dengan les (walau masih ngantuk tapi ini harus d ikuti), lalu jam 8 pagi nya les lagi, pulang les makan dan antri kamar mandi. Kata kunci yang selalu di ucapkan ketika mau antri mandi "Teh Abdi daftarnya", (serasa mau antri apaan),

Serangkaian kegiatan dilanjutkan ba'da dzuhur, sekolah sampai jam 5 sore, pulang sekolah seperti tadi pagi siap makan serta antri mandi kembali. sholat magrib mesti di mushola (kalo nggak siap-siap ada hukumannya) selesai sholat magrib biasanya suka di sambung dengan kultum atau les sama kakak tingkat 2 dan 3mln sampai isya. Terus di sambung menghapal di kelas sampai jam 10 malam, (kebiasaan saya jika sudah lelah mening tidur aja d kelas)

Wakwawww

Tepat 2 minggu, akhirnya waktu yang di nanti tiba. Ya, setiap dua minggu sekali jadwal pulang ke rumah, ketika mau pulang sama kakak kelas suka di kasih surat yang berisikan surat jadwal pulang, (suratnya harus di balikin lagi ke staf asrama kalo nggak di denda 500 perak)

Dua tahun kemudian, kini saya menginjak jenjang yang lebih tinggi jenjang yang di mana “katanya” bukan untuk main-main lagi. Ya, jenjang "Mu'allimin". Namun saya harus kembali di dugdag kembali, karena ada beberapa hal positif yang harus dilakukan dengan dibujeng,
Di jenjang ini saya mulai merasakan kebersamaan dan kekeluargaan, walau sudah keluar dari asrama namun tetap menjalin hubungan dengan kawan-kawan seperjuangan yang di asrama, kelas 1 Muallimien pun d lewati, 2 muallimien pun di lewati menuju tingkat 3 Muallimien, menuju puncak dari segalanya.

Kebersamaan mulai sangat terasa dengan kawan-kawan seperjuangan apalagi ketika praktek mengajar serta PPL (Praktek Pengenalan Lapangan). Waktupun begitu cepat, hari yang di nanti, namun di takutpun tiba. Ya, wisuda tepat tahun 2013 angkatan XV di wisuda hari di mana semua masa belajar d cibegol berakhir, namun silaturahmi selalu berjalan. Tangis, Pelukan dan perpisahan semua terjadi di hari itu.


Mereka adalah sebagian asatidz cibegol. Mereka yang mendidik dari kita tidak mengtahui menjadi tahu, mereka tak pernah memperlihatkan rasa lelah di hadapan muridnya, karena mereka menginginkan muridnya kuat dan paham akan ilmu yang mereka berikan. Terima kasih guru, kalian adalah cahaya kami di saat kami gelap akan ilmu, kalian adalah petunjuk ketika kami bingung akan perbedaan pemahaman.







Ini adalah foto kawan-kawan seperjuangan, keluarga besar XV. Mungkin ini adalah seragam sekolah terakhir tapi bukan berarti dalam mencari ilmupun berakhir, mungkin kebersaman di sekolah selesai, namun bukan berarti silaturahmi kita usai. kalian layaknya buring yang keluar dari sangkarnya kalian terbang mengikuti arah angin. Tapi ingat, kalian akan merindukan sangkar itu, walau tak akan bisa kembali ke sana untuk mengulang masa lalu.






Ingat kawan di manapun kalian berada nanti, kalian akan merindukan masa itu, kalian sudah di beri ilmu oleh guru-guru kalian, maka itu adalah bekal untuk menata hidup kalian di masa sekarang menuju masa depan.




Bandung, 25 Juni 2015

Dini Nurhakim,

Minggu, 14 Juni 2015

Baca we..

Ekehmmm… Aweu Aweuu

Sore ini, cuaca sangat tak bersahabat, rasanya akan kurang baik bila jalan-jalan sekalipun, aku membuka laptop yang usang, karena lama tak dipakai. Ada hal yang ingin aku ketik untuk ku utarakan kepada teman-temanku yang baik, awalnya aku ragu, seragu-ragunya hingga tiga batang rokok ku hisap menunggu kepastian datang.

Baiklah.. !!

Sesuatu hal yang dilakukan akan jelas dan mempunyai tujuan, untuk setidaknya dapat mencapai cita-cita yang semaksimal mungkin, Alasan mendasar, dengan kami mendirikan sebuah blog ini, supaya ada romantisme yang terjalin, entahlah, awalnya beberapa orang di antara kami sedang khidmat menyaksikan final Champion edisi 2015 sembari bergurau tentang jenuhnya kehidupan semenjak lulus Muallimien beberapa tahun yang lalu. Seperti yang kita ketahui, kehidupan baru pun di mulai. Beberapa orang di antaranya mengambil jalan guna menimba ilmu, sebagian jua lebih memfokuskan guna membangun usaha, sebagian lagi lebih indah dengan naik ke jenjang sakral yaitu pernikahan.

Ada hal yang selalu terniang tentang masa-masa dimana celotehan, berkumpul, selalu berirama tempo dulu serta kejahatan yang terbalut dalam drama sangat sexy. Sekalipun pertemuan bisa menghilangkan rasa rindu, namun ada sebuah hal yang berbeda. Pertemuan selalu singkat dan jarang berbekas, apalagi bagi mereka yang sudah di luar kota.

Kami terus berpikir tentang hal yang akan tetap mempersatukan kita, terasa lebih dekat sekalipun berjauhan, terasa bersentuhan walaupun tak bersua. Saudara Luthfi, sahabat saya mengusulkan dengan menciptakan sebuah blog, guna menampung berbagai aspirasi, konfirasi. History, demontrasi dan berbagai hal lainnya. Hal ini mendapat pertentangan awalnya dari sebagian, dengan alasan hanya buang-buang waktu dan kuota. Tapi saya dan sebagian lainnya sangat setuju dengan gagasan yang beliau ajukan.

Pun, demikian dengan Saudara Aji, yang sekarang menduduki kursi keustadzan bersempak di Lembang terus mendesak saya guna mempercepat pembuatan blog tersebut, akhirnya proklamasi pun dimulai, sebatang rokok Jarcok pun menjadi saksi.

Awalnya, Blog ini akan dikelola oleh saudara Hirvan Juhe, namun, faktor cinta membuatnya harus pindah ke Ibu kota, akhirnya dengan berat hati, namun optimis saya bersama Luthfi akan mengelola blog dalam keadaan sehat, itupun apabila ada kuota.

Meninjau minat yang terbatas dan hanya menghinggapi beberapa orang saja, dirasa blog ini hanya demontrasi yang sia-sia, namun semoga saja ada secerca dan seonggok harapan dan perhatian yang akan tumbuh.

Pribadi mempunyai sudut pandang yang ironi dari perkembangan media sosial yang tak bisa dibendung, yaitu kenyataan bahwa jiwa-jiwa yang kalut akan masalah, mencurahkan keluh kesahnya di berbagai dinding, semisal orang sering menyebutnya PM. Seolah berharap akan ada pihak yang bersimpati. Namun, saya pribadi berkesimpulan bahwa “Maaf “ hal tersebut hanya mempermalukan diri sendiri. “Cuma di read ajah ?” sering jadi problematika paling mencolok. Well, teman-temanku, tak ada salahnya kita menulis hal yang positif serta pada tempatnya supaya berguna bagi orang lain.

Berbagai pertimbangan, karena menulis merupakan hal yang paling penting, pertama kali kita masuk SD yang guru ajarkan setelah membaca adalah menulis, Well, pengalaman dan segala sesuatu akan lengkap bila kita menuliskannya, jangan pernah malu untuk menulis, karena lewat tulisan dunia bisa terguncang.

Kami berharap teman-teman berkontribusi untuk blog ini, menuliskan pengalaman, memposting hasil belajar dan membaca, berbagi jalan usaha, maupun berbagi hal lainnya atau setidaknya ikut membaca. Mudah-mudahan akan ada pertemuan yang panjang di blog ini,
Sebelum saya mengakhiri basa basi saya, saya ucapkan selamat berjuang kepada saudari Sity Rozan begitupula Saudari Dewi Setiawati yang telah resmi menjadi seorang istri. Terima kasih,

Wildan Muhsin,


Dalam labirin kehidupan, 13 Juni 2015