Me-nu-lis
“Karena satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, namun satu tulisan mampu menembus jutaan kepala manusia”. - Sayyid Quthb -
Time flies so fast...
Tidak terasa, saat ini kita telah menginjak tahun kedua setelah kelulusan. Waktu memang begitu, mereka tidak pernah menua meski berhasil membuat tua kehidupan. Lihat, dentangnya masih setangguh para mujahid di medan perang, berjalan dengan lantang sambil membawa pedang yang siap menebas apa saja yang menjadi kehendak Tuhan. Jadi, bagaimana kabar kalian? Ada ucapan ‘salam rindu’ dari Semarang.
Sebagai negara berkembang, kemajuan teknologi dan informasi di Indonesia memang sangat pesat. Hal inilah yang dijadikan momentum bagi negara-negara maju untuk terus “menenggelamkan” Indonesia dalam zona nyaman yang disebut terlelap. Terbukti hingga saat ini, masyarakat Indonesia hanya bisa menjadi “pecandu” dari segala kemudahan bin kepraktisan kemajuan teknologi tersebut. Salah satu “nina bobo” dari negara maju adalah media yang saat ini sedang kita gunakan. Sederhana memang, berawal dari sebuah penggunaan namun bisa berubah menjadi ketergantungan.
Bukankah tidak selamanya pedang membahayakan? Sisi lain dari kegunaan pedang adalah mampu melindungi pemiliknya. Tentu saja hal ini tidak semudah sebuah pedang menjadi berbahaya, perlu adanya pengendalian dan pelatihan sebelum akhirnya pedang tersebut mampu memberikan perlindungan bagi pemiliknya.
Sama halnya dengan kemajuan teknologi saat ini, jika kita mampu menggunakannya sebaik mungkin, maka akan memberikan manfaat yang melebihi kadar negatifnya. Jika negara maju menjadikan hal ini sebagai kesempatan untuk menguasai dunia, mengapa tidak kita jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk menaklukkan dunia?
Inilah yang selalu saya kagumi dari kalian, tanpa diduga-duga blog angkatan kita lahir membawa tujuan yang begitu hebat. Di tengah remaja lain menghabiskan waktunya untuk melakukan hal tidak penting melalui media, kalian malah menggagas sebuah keadaan kearah yang lebih bermakna. Terima kasih.
Di awal tadi saya sempat mengutip ucapan Sayyid Quthb, ada yang tahu tentang beliau? Kalau belum, silakan jelajah ilmu pengetahuan melalui media yang ada, hehe. Namun sebenarnya bukan identitas Sayyid yang akan saya sampaikan, melainkan ucapannya terlepas dari sepak terjangnya di Al-Qaeda (merinding tiba-tiba).
Menulis, pekerjaan istimewa yang kerap dianggap sederhana bagi sebagian orang. Ketika lisan tidak sanggup untuk mengungkapkan segalanya, maka menulislah. Manusia memang diberikan anugerah lebih dengan kemampuan berkomunikasi. Namun, tidak semua keadaan mampu dikomunikasikan oleh manusia. Pada beberapa titik manusia akan memilih diam dan hanyut dalam kedaannya (lalu galau tiada terkira). Pada keadaan seperti inilah kalian bisa menulis, mengungkapkan ganjal yang membesar dalam dada dengan merefleksikannya ke dalam kata-kata. Atau, ingin berbagi ilmu namun masih belum berani ?, maka menulislah dan sebarkan sebanyak yang kalian mau. Mudah bukan?
Terlepas dari apapun itu, bagi saya menulis adalah ekspresi. Jika banyak orang yang memilih berbagai cara untuk menikmati hidup, maka menulis adalah cara saya untuk menikmati hidup. Apa pun itu, di mana pun itu, atau bagaimana pun itu, menulis juga merupakan cara saya untuk mengabadikan rasa. Selain itu, bagi saya, menulis juga soal permainan meninggalkan jejak, maka sebanyak apa jejak yang akan saya tinggalkan sebelum kembali pada pangkuan Ilahi Rabby?
Jadi, kapan kita mulai menulis? Bergeraklah saudaraku, ayo bangun! Bukankah suatu pekerjaan akan lebih terasa menyenangkan jika dilakukan secara bersama-sama? Mari menulis bersama, kita manfaatkan blog angkatan ini dengan baik dan berhenti menjadi bangsa Indonesia yang “terlelap”.
Sekian yang ingin saya sampaikan untuk saat ini. Semoga tidak terlalu terlambat.
“Karena satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, namun satu tulisan mampu menembus jutaan kepala manusia”. - Sayyid Quthb -
Time flies so fast...
Tidak terasa, saat ini kita telah menginjak tahun kedua setelah kelulusan. Waktu memang begitu, mereka tidak pernah menua meski berhasil membuat tua kehidupan. Lihat, dentangnya masih setangguh para mujahid di medan perang, berjalan dengan lantang sambil membawa pedang yang siap menebas apa saja yang menjadi kehendak Tuhan. Jadi, bagaimana kabar kalian? Ada ucapan ‘salam rindu’ dari Semarang.
Sebagai negara berkembang, kemajuan teknologi dan informasi di Indonesia memang sangat pesat. Hal inilah yang dijadikan momentum bagi negara-negara maju untuk terus “menenggelamkan” Indonesia dalam zona nyaman yang disebut terlelap. Terbukti hingga saat ini, masyarakat Indonesia hanya bisa menjadi “pecandu” dari segala kemudahan bin kepraktisan kemajuan teknologi tersebut. Salah satu “nina bobo” dari negara maju adalah media yang saat ini sedang kita gunakan. Sederhana memang, berawal dari sebuah penggunaan namun bisa berubah menjadi ketergantungan.
Bukankah tidak selamanya pedang membahayakan? Sisi lain dari kegunaan pedang adalah mampu melindungi pemiliknya. Tentu saja hal ini tidak semudah sebuah pedang menjadi berbahaya, perlu adanya pengendalian dan pelatihan sebelum akhirnya pedang tersebut mampu memberikan perlindungan bagi pemiliknya.
Sama halnya dengan kemajuan teknologi saat ini, jika kita mampu menggunakannya sebaik mungkin, maka akan memberikan manfaat yang melebihi kadar negatifnya. Jika negara maju menjadikan hal ini sebagai kesempatan untuk menguasai dunia, mengapa tidak kita jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk menaklukkan dunia?
Inilah yang selalu saya kagumi dari kalian, tanpa diduga-duga blog angkatan kita lahir membawa tujuan yang begitu hebat. Di tengah remaja lain menghabiskan waktunya untuk melakukan hal tidak penting melalui media, kalian malah menggagas sebuah keadaan kearah yang lebih bermakna. Terima kasih.
Di awal tadi saya sempat mengutip ucapan Sayyid Quthb, ada yang tahu tentang beliau? Kalau belum, silakan jelajah ilmu pengetahuan melalui media yang ada, hehe. Namun sebenarnya bukan identitas Sayyid yang akan saya sampaikan, melainkan ucapannya terlepas dari sepak terjangnya di Al-Qaeda (merinding tiba-tiba).
Menulis, pekerjaan istimewa yang kerap dianggap sederhana bagi sebagian orang. Ketika lisan tidak sanggup untuk mengungkapkan segalanya, maka menulislah. Manusia memang diberikan anugerah lebih dengan kemampuan berkomunikasi. Namun, tidak semua keadaan mampu dikomunikasikan oleh manusia. Pada beberapa titik manusia akan memilih diam dan hanyut dalam kedaannya (lalu galau tiada terkira). Pada keadaan seperti inilah kalian bisa menulis, mengungkapkan ganjal yang membesar dalam dada dengan merefleksikannya ke dalam kata-kata. Atau, ingin berbagi ilmu namun masih belum berani ?, maka menulislah dan sebarkan sebanyak yang kalian mau. Mudah bukan?
Terlepas dari apapun itu, bagi saya menulis adalah ekspresi. Jika banyak orang yang memilih berbagai cara untuk menikmati hidup, maka menulis adalah cara saya untuk menikmati hidup. Apa pun itu, di mana pun itu, atau bagaimana pun itu, menulis juga merupakan cara saya untuk mengabadikan rasa. Selain itu, bagi saya, menulis juga soal permainan meninggalkan jejak, maka sebanyak apa jejak yang akan saya tinggalkan sebelum kembali pada pangkuan Ilahi Rabby?
Jadi, kapan kita mulai menulis? Bergeraklah saudaraku, ayo bangun! Bukankah suatu pekerjaan akan lebih terasa menyenangkan jika dilakukan secara bersama-sama? Mari menulis bersama, kita manfaatkan blog angkatan ini dengan baik dan berhenti menjadi bangsa Indonesia yang “terlelap”.
Sekian yang ingin saya sampaikan untuk saat ini. Semoga tidak terlalu terlambat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar