Jumat, 12 Juni 2015

Risya Aulia Husna

GURU KILLER MOTIVATOR

Pagi itu, pagi yang sedikit mendung membuat kami harus memakai jaket karena cuacanya yang kurang mendukung. Rasanya, lebih enak terlungkup diatas kasur saja dari pada harus pergi ke sekolah melihat angka-angka yang bergelantung di atas white board yang menempel di tembok kelas berwarna ungu itu.
 Tiada hari tanpa harus menahan isi kepala yang hendak keluar saking pusingnya, angka-angka itu selalu menggoda keimananku. Kalaulah habis kesabarnku, pasti aku sudah banting raga ini, kujatuhkan ke bawah tembok keras-keras. Alhamdulillah, aku masih diberi kesbaran oleh Allah SWT untuk hal ini.
Aku mendapatkan pelajaran ini dalam satu minggu 2x. setiap pertemuan aku dan teman-temanku satu kelas harus bergelut dengan rumus dan angka selama 1 jam setengah. Sungguh membuat kepala ini semakin pening, apalagi ketika pelajaran ini di gabung dengan pelajaran sejarah.
Jadi, setelah selesai belajar matematika aku harus mendengarkan sebuah cerita yang isinya sejarah beberapa tahun lalu, dan aku harus mengingat beberapa peristiwa beserta tanggalnya. Sungguh penat kepala dan otak ini.
Suatu hari, “Mi, aku ngantuk banget, saking pusingnya karena aku terlalu banyak melirik whiteboard yang ada di depan itu.” Azka anak rajin yang selalu mengerjakan PR aja sempet ngeluh karena pusing melihat ribuan angka yang menempel di white board itu.
“Hihihi…” aku hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapan azka sang anak Rajin. Jadi, disini aku menyimpulkan bahwa pelajaran ini adalah pelajaran yang paling killer, ditambah lagi gurunya kalo lagi ngejelasin gak pernah lirik murud.
 Jadi, apa yang kita gak ngerti ya gak bakal ngerti seterusnya, kecuali ada teman yang yang sukarela menjelaskan kembali apa yang bapak sampaikan. Itupun kalo ada yang faham.
Braaaaakkkk…
Tiba-tiba saja terdengar suara pukulan dari sang guru killer ini. Kami semua tertunduk takut, segan dan entahlah perasaan ini gak karuan. Kalian tau apa penyebabnya? Ya, bapak ngerasa kalo kita sama sekali gak merhatiin pelajaran bapak pagi ini. Dan itu memang benar.
“Kalian ini kalo udah gede mau jadi apa toh?” logat jawa disertai sedikit emosional orang sundanya dikeluarkan.
Ada sebagian diantara kita yang malah malu, tapi tak sedikit diantara kami malah cekikkikan. Aku sendiri malah gak tahu apa sih yang terjadi sekarang ini? Apa penyebab bapak marah, saking gak merhatiinnya jadi gak tahu apa-apa.
“Maaf pak, kami lancang habisnya kami pusing pak terlalu banyak rumus dan angka…” dengan polosnya Tegar mengungkapkan dan katanya mewakili kami satu kelas. Ohmygod.
“dengar-dengar… pelajaran Matematika ini adalah pelajaran yang tidak bisa dihindari nak. Maksudnya, dari mulai pendidikan terendah seperti PAUD sampai perguruan tinggi kalian tidak akan pernah meninggalkan dan melupakan pelajaran ini.” Dengan sedikit menggebu dan tangannya yang lagi megangin spidol juga ikutan marah mukulin meja.
Kami hanya terduduk sambil tertunduk mendengar ocehan sang bapak killer. Kami dengarkan pembicaraan panjang beliau hingga tiba saatnya kami harus meninggalkan beliau karena bel istirahat tekah berbunyi.
Seminggu berikutnya…
Guru killer gak masuk, ada apa gerangan? “Apakah mengundurkan diri?” Lamunan ini melambung jauh menembus angkasa. Ada ada saja. Pertanyaan yang gak nyambung bahkan itu hanyalah sebuah pengharapan seekor murid yang mulai bosan dengan ribuan angka dan rumus yang memusingkan.
Harapan ini pupus, karena ternyata sang guru killer sedang pergi study banding dengan sekolah di negri sebrang, dan kami disini hanya ingin mengucapkan selamat dan terimakasih karena telah memberi kami setumpuk soal yang kami kurang mengerti.
Huft…sudahlah, biarkan ini menjadi tugas untuk dikerjakan di rumah, minta bantuan papa atau mama mungkin, teringat ketika SD.
Malam gelap gulita, ku pandang langit penuh bintang bertaburan.(kaya lirik lagu deh) terbesit dalam hati kecilku bahwa aku ingin menyentuh bulan itu. Ingin menginjakkan kakiku di bulan yang bersinar itu (padahal sinarnya dikasih matahari).
 Sampai tiba waktunya untuk tidur, atas kuasa Allah aku memimpikan apa yang aku igninkan, tapi, dalam mimpi tersebut yang membawa aku terbang menuju bulan adalah seorang guru matematika yang killer itu.
Keesokan harinya…
Aku bangun dengan iler di sepanjang bantal yang menyengatkan bau khas. Aku bergegas ke kamar mandi dan aku lupa berdo’a. segera aku pakai mukena untuk melaksanakan Shalah subuh.
 Selesai shalat, tak biasanya aku langsung menuju meja tempat belajar dan memilah buku pelajaran hari ini. Kebetulan sekali ada tugas matematika, dengan semangat aku kerjakan. Membutuhkan waktu yang lumayan lama, karena aku sempat tidak mengerti tentang rumus yang ini, yang itu dan banyak sekali sebab aku jarang sekali memperhatikan penjelasan sang guru killer.
Mimpi tadi malam membuat aku semakin rajin dan selalu memperhatikan pelajaran sang guru killer, eh tapi sekarang aku ganti nama gurunya, bukan guru killer tapi sang motivator matematika. Karena kini aku sadar bahwa setiap pelajaran tak luput dari sebuah bahkan berbuah-buah angka.
Terimakasih untuk sang motivator matematika yang sudah membuat aku menjadi seorang guru bagi muridku sekarang, meskipun bukan menjadi astronot tapi setidaknya karena bapak, aku bisa menceritakan pahit manisnya belajar matematika bersama bapak sang guru killer, eh sang motivator matematiaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar