GURU KILLER
MOTIVATOR
Pagi
itu, pagi yang sedikit mendung membuat kami harus memakai jaket karena cuacanya
yang kurang mendukung. Rasanya, lebih enak terlungkup diatas kasur saja dari
pada harus pergi ke sekolah melihat angka-angka yang bergelantung di atas white
board yang menempel di tembok kelas berwarna ungu itu.
Tiada hari tanpa harus menahan isi kepala yang
hendak keluar saking pusingnya, angka-angka itu selalu menggoda keimananku.
Kalaulah habis kesabarnku, pasti aku sudah banting raga ini, kujatuhkan ke
bawah tembok keras-keras. Alhamdulillah, aku masih diberi kesbaran oleh Allah
SWT untuk hal ini.
Aku
mendapatkan pelajaran ini dalam satu minggu 2x. setiap pertemuan aku dan
teman-temanku satu kelas harus bergelut dengan rumus dan angka selama 1 jam
setengah. Sungguh membuat kepala ini semakin pening, apalagi ketika pelajaran
ini di gabung dengan pelajaran sejarah.
Jadi,
setelah selesai belajar matematika aku harus mendengarkan sebuah cerita yang
isinya sejarah beberapa tahun lalu, dan aku harus mengingat beberapa peristiwa
beserta tanggalnya. Sungguh penat kepala dan otak ini.
Suatu
hari, “Mi, aku ngantuk banget, saking pusingnya karena aku terlalu banyak
melirik whiteboard yang ada di depan itu.” Azka anak rajin yang selalu
mengerjakan PR aja sempet ngeluh karena pusing melihat ribuan angka yang
menempel di white board itu.
“Hihihi…”
aku hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapan azka sang anak Rajin. Jadi,
disini aku menyimpulkan bahwa pelajaran ini adalah pelajaran yang paling
killer, ditambah lagi gurunya kalo lagi ngejelasin gak pernah lirik murud.
Jadi, apa yang kita gak ngerti ya gak bakal
ngerti seterusnya, kecuali ada teman yang yang sukarela menjelaskan kembali apa
yang bapak sampaikan. Itupun kalo ada yang faham.
Braaaaakkkk…
Tiba-tiba
saja terdengar suara pukulan dari sang guru killer ini. Kami semua tertunduk
takut, segan dan entahlah perasaan ini gak karuan. Kalian tau apa penyebabnya?
Ya, bapak ngerasa kalo kita sama sekali gak merhatiin pelajaran bapak pagi ini.
Dan itu memang benar.
“Kalian
ini kalo udah gede mau jadi apa toh?” logat jawa disertai sedikit emosional
orang sundanya dikeluarkan.
Ada
sebagian diantara kita yang malah malu, tapi tak sedikit diantara kami malah
cekikkikan. Aku sendiri malah gak tahu apa sih yang terjadi sekarang ini? Apa
penyebab bapak marah, saking gak merhatiinnya jadi gak tahu apa-apa.
“Maaf
pak, kami lancang habisnya kami pusing pak terlalu banyak rumus dan angka…”
dengan polosnya Tegar mengungkapkan dan katanya mewakili kami satu kelas.
Ohmygod.
“dengar-dengar…
pelajaran Matematika ini adalah pelajaran yang tidak bisa dihindari nak.
Maksudnya, dari mulai pendidikan terendah seperti PAUD sampai perguruan tinggi
kalian tidak akan pernah meninggalkan dan melupakan pelajaran ini.” Dengan
sedikit menggebu dan tangannya yang lagi megangin spidol juga ikutan marah
mukulin meja.
Kami
hanya terduduk sambil tertunduk mendengar ocehan sang bapak killer. Kami
dengarkan pembicaraan panjang beliau hingga tiba saatnya kami harus
meninggalkan beliau karena bel istirahat tekah berbunyi.
Seminggu
berikutnya…
Guru
killer gak masuk, ada apa gerangan? “Apakah mengundurkan diri?” Lamunan ini
melambung jauh menembus angkasa. Ada ada saja. Pertanyaan yang gak nyambung
bahkan itu hanyalah sebuah pengharapan seekor murid yang mulai bosan dengan
ribuan angka dan rumus yang memusingkan.
Harapan
ini pupus, karena ternyata sang guru killer sedang pergi study banding dengan
sekolah di negri sebrang, dan kami disini hanya ingin mengucapkan selamat dan
terimakasih karena telah memberi kami setumpuk soal yang kami kurang mengerti.
Huft…sudahlah,
biarkan ini menjadi tugas untuk dikerjakan di rumah, minta bantuan papa atau
mama mungkin, teringat ketika SD.
Malam
gelap gulita, ku pandang langit penuh bintang bertaburan.(kaya lirik lagu deh)
terbesit dalam hati kecilku bahwa aku ingin menyentuh bulan itu. Ingin
menginjakkan kakiku di bulan yang bersinar itu (padahal sinarnya dikasih
matahari).
Sampai tiba waktunya untuk tidur, atas kuasa
Allah aku memimpikan apa yang aku igninkan, tapi, dalam mimpi tersebut yang
membawa aku terbang menuju bulan adalah seorang guru matematika yang killer
itu.
Keesokan
harinya…
Aku
bangun dengan iler di sepanjang bantal yang menyengatkan bau khas. Aku bergegas
ke kamar mandi dan aku lupa berdo’a. segera aku pakai mukena untuk melaksanakan
Shalah subuh.
Selesai shalat, tak biasanya aku langsung
menuju meja tempat belajar dan memilah buku pelajaran hari ini. Kebetulan
sekali ada tugas matematika, dengan semangat aku kerjakan. Membutuhkan waktu
yang lumayan lama, karena aku sempat tidak mengerti tentang rumus yang ini,
yang itu dan banyak sekali sebab aku jarang sekali memperhatikan penjelasan
sang guru killer.
Mimpi
tadi malam membuat aku semakin rajin dan selalu memperhatikan pelajaran sang
guru killer, eh tapi sekarang aku ganti nama gurunya, bukan guru killer tapi
sang motivator matematika. Karena kini aku sadar bahwa setiap pelajaran tak
luput dari sebuah bahkan berbuah-buah angka.
Terimakasih
untuk sang motivator matematika yang sudah membuat aku menjadi seorang guru
bagi muridku sekarang, meskipun bukan menjadi astronot tapi setidaknya karena
bapak, aku bisa menceritakan pahit manisnya belajar matematika bersama bapak
sang guru killer, eh sang motivator matematiaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar