Rabu, 01 Juli 2015

                                                  R.I.P “Asep Rahman Hudaya”

Sangat berat rasanya mengisahkan kembali sahabat yang satu ini, setidaknya butuh dicatat, untuk mengingatkan kita akan pernah kehadirannya.
Hari itu saat pertama kali masuk ke Pesantren Cibegol, ada rasa takut yang menyelimuti saat orangtua mulai menjauh seakan kita ditinggal dalam kegelapan yang sangat “Poek Mongkleng”, masuk dalam ranah yang sangat menggelikan. Masuk dalam situasi segala antri, yah, rasanya kalian semua akan gampang mendeskripsikan bagaimana rasanya menurut pandangan masing-masing. Keadaan yang baru menuntut kita menyesuaikan dengan lingkungan serta mencari teman baru guna mengarungi kehidupan yang lebih bermakna.
So kenal adalah hal yang paling bisa diandalkan untuk mencari teman, begitupun yang aku alami dan aku lakukan, dengan modal sebungkus coklat aku tawarkan kepada mereka, termasuk Almarhum, hingga terjadilah persahabatan yang kentara dan syarat akan arti. 
Pribadi yang sedikit kumuh, berambut ikal, bermata tajam, cara jalannya yang khas, alis tebal mencerminkan pribadi yang sangat cerdas. Dia memandangku dengan tajam, menjabat tanganku dengan cengkeraman yang erat, 
“Hai Broh, Urang Asep, hehe, Maneh saha ?” sergapnya,
Aku pun menyebutkan nama, lengkap beserta alamat, status, tak lupa ku serahkan profil lengkap dalam sebuah kertas biodata yang sewaktu SD sering menghiasai waktu-waktu kosong dengan mengisinya. Tak lama berselang dengan pembicaraan yang tak tentu arah kami menyusuri sebuah lorong yang mengantarkan kami ke kelas. Karena beberapa hari lebih awal masuk pesantren, dia memperkenalkan ku ke teman-teman yang lain, sehingga suasana pun mulai ramai.
Persahabatan kami begitu erat, bahkan Houdini sekalipun tak bisa melepaskannya, hingga suatu ketika, saat kami akan menghadapi kenaikan kelas 2, Asep tak seperti biasanya, keganjilan memang sudah terasa saat hari-hari ulangan berlangsung, ada yang aneh dari badannya, pipinya membengkak, matanya belotot dan dia terlihat murung. Dan seolah seperti mengasingkan diri. Nampaknya, ada beban yang menyelimutinya 
Beberapa hari tak ada kabar darinya, kamipun tak ada perasaan untuk sekedar menengoknya bahkan tak tercium pirasat buruk hal yang akan menimpanya. Saat itu H-1 menuju haflah imtihan. ada berita yang sangat menyentak dan menggugah alam sadar berita yang kami dengar seperti khayalan belaka namun nyata adanya, sebuah berita kepergian Asep. Seolah tak percaya akan berita yang datang, kalian pasti tak akan menyangka, akupun demikian, kepergiannya begitu cepat. Itulah keputusan Tuhan, siapa yang tahu. 
Sepanjang perjalanan ke pemakaman, aku sibuk mengingat hal-hal yang pernah ku alami bersama. Teringat saat rumahnya menjadi muara pertama saat kejenuhan melanda, sifat konyolnya menjadi ramuan kala pikiran ini buntu, sikap arogan dan pembelanya menjadikan kita merasa terlindungi. Ah, sudahlah, apa yang aku pikirkan, namun, mata ini tak bisa mengelak saat harus mencucurkan tanda haru yang amat menyakitkan. Saat membahas perihal, beberapa hari sebelum kepergiannya tak banyak yang kami pertanyakan, kami hanya percaya itulah keputusan terbaik Tuhan untuknya.
Pagi ini tepatnya, setelah enam tahun kepergiannya, ada ingatan sekalipun tempat kita dengannya sudah berbeda, dia tetap menjadi bagian dari kita, bagian dari kita.

#Hamba ALL0H 

Selasa, 30 Juni 2015

Hidup seperti sebuah kertas yang masih polos tanpa sebuah tinta  awal kehidupan seperti telur yang berada di ujung taduk. Sebuah kisah dan realita kehidupan  seperti tulisan yang di karang penulis. Aku bagaikan samudra yang lantang terdengar ,bagiku hidup ini seperti lukisan dan hanyalah imaji seseorang pengarang . sudah lama aku berada dalam kabut senja  dan hanya di temani ilusi mimpi .bukankah sebuah kepahitan hidup yang di alami seorang yang memiliki moto hidup bagi samudra,tetapi orang yang memiliki samudra adalah orang yang memiliki lukisan yang abadi., aku hanya dapat mendengar tapi tak dapat arti rasa itu .
Sore itu saat semua barisan mata tertutup diantara bilik kamar , aku mendengar jeritan mereka “ suara kemana aku berlari” sahut guraman suara hatiku yang mendengar jeritan itu. Suasana saat itu seperti di tutupi kabut  merah. aku hanya dapat mendengar tapi tak dapat arti rasa itu. Bagiku hanyalah sebuah jeritan yang terkadang sulit untuk di pahami . lalu sesaat hilanglah  suara jeritan itu dan tiba-tiba suara  tangis terdengar. Apa makna ini semua?pertanyaan itu muncul lagi dari hatiku . setelah beberapa saaat aku terdiam,  dan memutuskan untuk menghilang  dari kabut merah yang mencekam hatiku.
Sudahlah lupakan pertanyaan yang membuatku menelan duri. Terkadang akupun ragu untuk memikirkan sesuatu , hidup ini memang sebuah teka-teki jika aku salah langkah maka akan besar akibatnya. Akupun melangkah menuju ke sebuah jalan, tapi jalan ini menghantarkan ku  pada sebuah gemerlapnya dunia malam  .. aku mendengar suara mereka yang di iringi lampu yang berdendang. Menurutku mereka itu seperti  menelan jeruji besi sungguh malang yang mereka lakukan. Akupun tidak dapat menerka dengan semua ini. Bagiku hanya sebuah kiasan kata  yang mereka nikmati dan hanya mereka yang mengakhiri “ ya Alloh untuk apa kau menciptakan dunia ini?” kata ku sambil meneteskan air mata. Sudahkah mereka fikirkan akhir kehidupan dunia ini?. Tapi tetaplah hidup membuat kehidupan yang  nyata dan dibalik sisi  ada sebuah rahasia yang belum terungkap di dalam nya.
 Seiring berjalan nya waktu, aku kembali melangkah menuju sebuah jalan , jalan apakah yang akan ku tempuh delanjutnya, mungkinkah sebuah gambaran yang ingin di ungkapkan penulis pada sebuah episode yang ku lihat. Entahlah, kembali aku mendapat senbuah teka-teki  dalam stiap jalan yang aku hampiri , lalu aku terdampar  pada sebuah lukisan rakyat anai-anai. Kulihat hidup mereka seperti  mendapat siksaan yang amat perih. Di manakah letak keadilan bagi kehidupan mereka?” Tolong kami tidak bisa menghadapi kehidupan ini “ kata beberapa rakyat Anai-anai yang menjerit dan meronta. Kulihat mereka tidak dapat menghadapi setiap kobaran api yang menyala. inikah kehidupan yang sebenarnya ? kata ku dalam pandangan hampa. Di balik sebuah sisi aku melihat sebuah rakyat tikus yang rakus akan makan. “ hidup kami bagai di surga inilah sebenarnya keadilan bagi kehidupan kami “ yang memiliki kekuasaan yang abadi” kata beberapa rakyat tikus yang tertawa gembira. Mereka tidak memikirkan rakyat anai-anai yang menderita. Kembali aku bertanya apakah mereka hanya memikirkan kepuasan mereka ?  lukisan ini memberikanku sebuah kepahitan yang mendalam.
Sudahkah aku mendapat makna tentang lukisan yang kulihat. Akupun masih ragu untuk menerka semua ini . hatiku masih di ambang  kegelisahan yang membuatku sulit menerima semua ini. Mungkin setiap gambaran yang kulihat  mengandung makna samudra  di dalamnya , apakah hidup seperti samudra itu, memiliki cobaan yang sangat sulit di hadapi? Akupun tidak mengerti dengan semua pertanyaan itu. Lalu kembalilah aku di tunjukan pada sebuah gerbang  jalan yang  sangat gelap  bahkan hampir tidak memiliki titik terang di dalam nya, jalan apakah ini ? Tanya ku dengan hati yang takut . lalu untuk apa aku di bawa ke tempat yang hampir membutakan setiap hati dan pikiran.
Mungkinkah ini lukisan yang terakhir dalam setiap perjalanan yang ku tempuh. Kembalilah aku pada sebuah permainan teka-teki yang membuatku bertanya-tanya . sejenak terdiam  lalu saaat itulah aku melihat sebuah kehidupan yang sangat kusam , tak teerlihat kedamaian di dalam nya . mereka seperti singa yang mengamuk bahkan ingin menjatuhkan musuh –musuhnya. Apakah mereka hanya menginginkan kekuasaaan yang abdi ? Tanya ku dengan amarah yng  mendalam” akulah raja  dari segala raja  barang siapa yang ingin bersaing dengan ku maka bersiaplah untuk merasakan kepahitan “ kata raja singa  yang mengaum keras  sepeerti halilintar yang yang menyambar.  Kau pikir tahta mu adalah surga yang abadi. Lihatlah dari segala  penjuru,  kau pun tak sebanding  dengan setetes  air  di samudera yang luas, sungguh tak berarti lukisan yang hanya menggambarkan keekuasaaan belaka.
 Inikah jalan yang akan aku hadapi dari setiap perjalanan hidupku, hidup memang tidak memberikan sebuah jaminan untuk kebahagiaan   yang abadi, Tapi bagi ku hidupku bagai samudra yang tak dapat di samakan  dengan semboyan belaka, aku memandang bagi setiap kehidupan mereka adalah lukisan . lukisan itu hanya membuat kisah pada setiap episode  yang di tayangkan





Senin, 29 Juni 2015

Catatan Fairuz Nabihah

Assalamu’alaikum, salam hangat ya. Terimakasih sebelumnya kepada yang sudah memperkenankan untuk menulis coretan yang tidak penting ini di blog ini.

Kali ini saya hanya ingin membuat sebuah penyemangat saja, yang didahului dengan quote. Yaaa... quote ini saya sendiri yang buat. Memang terlihat sepintas tidak penting. Tapi makna dari quote itu sendiri yang akan membuat kalian berpikir dua kali, membacanya lagi dan membacanya lagi sehingga kalian dapat mengerti makna dari quotes tersebut.

Okay... kita mulai

DONT WASTE YOUR TIME, IT’S YOUR BIG CHANCE.

Kamu tahu? Waktu...? yaa.. waktu. Setiap langkah yang kita lalui terdiri dari waktu. Waktu sangatlah penting, tanpa adanya waktu kamu tidak akan bisa apa-apa. Artinya, gunakanlah waktumu sebaik mungkin, karena waktu merupakan kesempatan yang tinggi. Hargailah waktu. Karena kalian tahu bahwa waktu takkan bisa berputar dan diputar kembali. Maka dari itu apa kita bisa menggunakan waktu dengan tepat? Menggunakan nya sebagai kesempatan yang masih terbuka lebar untuk melakukan apa yang takkan kita sesali nanti ketika semua sudah terlewati. Yaa memang sulit untuk terpikir bahwa waktu merupakan kesempatan berharga yang akan nanti kita sesali bila tidak digunakan dengan tepat. So... don’t waste your time J because your time is your big chance.

Terima kasih.

Dan jangan lupa follow ig fairuzzznab sebagai part of Lumina Management ya J xixi 

Jumat, 26 Juni 2015

Catatan Vera

Me-nu-lis

“Karena satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, namun satu tulisan mampu menembus jutaan kepala manusia”. - Sayyid Quthb -

Time flies so fast...

Tidak terasa, saat ini kita telah menginjak tahun kedua setelah kelulusan. Waktu memang begitu, mereka tidak pernah menua meski berhasil membuat tua kehidupan. Lihat, dentangnya masih setangguh para mujahid di medan perang, berjalan dengan lantang sambil membawa pedang  yang siap menebas apa saja yang menjadi kehendak Tuhan. Jadi, bagaimana kabar kalian? Ada ucapan ‘salam rindu’ dari Semarang.

Sebagai negara berkembang, kemajuan teknologi dan informasi di Indonesia memang sangat pesat. Hal inilah yang dijadikan momentum bagi negara-negara maju untuk terus “menenggelamkan” Indonesia dalam  zona nyaman yang disebut terlelap. Terbukti hingga saat ini, masyarakat Indonesia hanya bisa menjadi “pecandu” dari segala kemudahan bin kepraktisan kemajuan teknologi tersebut. Salah satu “nina bobo” dari negara maju adalah media yang saat ini sedang kita gunakan. Sederhana memang, berawal dari sebuah penggunaan namun bisa berubah menjadi ketergantungan.

Bukankah tidak selamanya pedang membahayakan? Sisi lain dari kegunaan pedang adalah mampu melindungi pemiliknya. Tentu saja hal ini tidak semudah sebuah pedang menjadi berbahaya, perlu adanya pengendalian dan pelatihan sebelum akhirnya pedang tersebut mampu memberikan perlindungan bagi pemiliknya.

Sama halnya dengan kemajuan teknologi saat ini, jika kita mampu menggunakannya sebaik mungkin, maka akan memberikan manfaat yang melebihi kadar negatifnya. Jika negara maju menjadikan hal ini sebagai kesempatan untuk menguasai dunia, mengapa tidak kita jadikan momen ini sebagai kesempatan untuk menaklukkan dunia?

Inilah yang selalu saya kagumi dari kalian, tanpa diduga-duga blog angkatan kita lahir membawa tujuan yang begitu hebat. Di tengah remaja lain menghabiskan waktunya untuk melakukan hal tidak penting melalui media, kalian malah menggagas sebuah keadaan kearah yang lebih bermakna. Terima kasih.

Di awal tadi saya sempat mengutip ucapan Sayyid Quthb, ada yang tahu tentang beliau? Kalau belum, silakan jelajah ilmu pengetahuan melalui media yang ada, hehe. Namun sebenarnya bukan identitas Sayyid yang akan saya sampaikan, melainkan ucapannya terlepas dari sepak terjangnya di Al-Qaeda (merinding tiba-tiba).

Menulis, pekerjaan istimewa yang kerap dianggap sederhana bagi sebagian orang. Ketika lisan tidak sanggup untuk mengungkapkan segalanya, maka menulislah. Manusia memang diberikan anugerah lebih dengan kemampuan berkomunikasi. Namun, tidak semua keadaan mampu dikomunikasikan oleh manusia. Pada beberapa titik manusia akan memilih diam dan hanyut dalam kedaannya (lalu galau tiada terkira). Pada keadaan seperti inilah kalian bisa menulis, mengungkapkan ganjal yang membesar dalam dada dengan merefleksikannya ke dalam kata-kata. Atau, ingin berbagi ilmu namun masih belum berani ?, maka menulislah dan sebarkan sebanyak yang kalian mau.   Mudah bukan?

Terlepas dari apapun itu, bagi saya menulis adalah ekspresi. Jika banyak orang yang memilih berbagai cara untuk menikmati hidup, maka menulis adalah cara saya untuk menikmati hidup. Apa pun itu, di mana pun itu, atau bagaimana pun itu, menulis juga merupakan cara saya untuk mengabadikan rasa. Selain itu, bagi saya, menulis juga soal permainan meninggalkan jejak, maka sebanyak apa jejak yang akan saya tinggalkan sebelum kembali pada pangkuan Ilahi Rabby?

Jadi, kapan kita mulai menulis? Bergeraklah saudaraku, ayo bangun! Bukankah suatu pekerjaan akan lebih terasa menyenangkan jika dilakukan secara bersama-sama? Mari menulis bersama, kita manfaatkan blog angkatan ini dengan baik dan berhenti menjadi bangsa Indonesia yang “terlelap”.

Sekian yang ingin saya sampaikan untuk saat ini. Semoga tidak terlalu terlambat.

Rabu, 24 Juni 2015

Malaikat Penolong

Malaikat penolong, mungkin itulah "titel" yang pantas disandang oleh mereka. Sosok ini pertama kali saya temukan saat masuk Pesantren 34 Cibegol. Memang benar, teman-temanku disana sangat luar bisa, Mereka baik, perhatian, kocak, soleh (mungkin), dan sedikit tak waras.

Namun sosok ini bukan salah satu di antara temanku ini, bukan juga mereka, yang dengan kebesaran hati, senantiasa mencurahkan waktu dan tenaga nya, hanya untuk menjadikan kita generasi yang lebih baik dari mereka, jasa mereka takkan pernah terbayar oleh apapun. Karena waktu yang seharusnya mereka pakai untuk bekerja atau mencari nafkah untuk menghidupi keluarga seperti kebanyakan orang, malah mereka pakai untuk mendidik kita. Namun sosok ini adalah dia yang rela bangun lebih pagi hanya untuk membuatkan jajanan bagi kami santri RG.

Dia sering kami sebut dengan panggilan "Mak Aas". Mungkin sebagian santri menganggap dia ini hanya penjual biasa, tapi menurutku dia sosok yang memegang andil besar bagi pesantren kami. Mengapa? karena 95 % dari kami santri RG adalah jenis manusia yang buruk dalam manajemen keuangan. Uang dari mamah untuk satu bulan, ada yang habis dalam tempo dua minggu, seminggu, tiga hari, dan bahkan ada yang yang bulanan nya itu hanya melintas saja, ini yang paling extreme.

Lalu, setelah langkah meminjam uang teman dan uang SPP tak menutupi, kami pun merasa frustasi. Konsentrasi belajar kamipun buyar, karena perut yang tak terisi. Nah, dan saat kami berada di ambang kehancuran seperti ini. Dia dengan kerelaan hati nya membantu kita, membolehkan kita mengambil dulu makanan nya, tanpa mematok batas kita hanya boleh mengambil berapa.

Dia tidak memandang harus seperti apa orang yang boleh mengambil. Padahal, mungkin saja diantara kami ada yang berperilaku buruk, namun dia menghiraukan itu semua, karena hati nya tulus ingin membantu kami para mujahid yang sedang berjihad.

Tak hanya itu, terkadang saat kami sedang ngumpul nongkrong di tempat nya sambil bercerita tentang keluh kesah kami. Tak jarang dia ikut "nimbrung" memberikan nasihat nya agar kami dapat menjadi manusia yang "paham". Sehingga kamipun sudah menganggapnya sebagai ibu kami.

Berkat jasanya pula, kegiatan belajar kamipun dapat berlangsung dengan khidmat kembali, tanpa harus repot-repot memikirkan si perut. Sehingga akhirnya sekarang kamipun telah menjadi manusia yang berbakti kepada agama dan orang tua.

Sebelum nya aku mengira, sosok seperti itu hanya ada satu, tapi sudut pandanganku berubah saat aku ngekost di kelas tiga Muallimien. Disana akupun menemukan ibu warung yang kebaikannya hampir sama seperti Mak Aas. Yang membuatku kaget, sampai sekarang aku bekerjapun, sosok seperti itu aku temui lagi.

Hingga sampai lah aku pada suatu kesimpulan, bahwa Allah telah menaburkan malaikat penolong-Nya dimana-mana, saya berpikir hal itu di tunjukkan betapa sayangnya Dia terhadap hamba-Nya, juga agar kita tidak memiliki rasa "hariwang" dalam diri kita, selama kita mengimani-Nya, serta menjalankan ibadah kepada-Nya.

Sekian dari saya, dan maaf jika anda menyesal telah mengeluarkan waktu anda hanya untuk membaca tulisan seperti ini. Hehehe


Jakarta, 25 Juni 2015,

Fajri Awaludin,

Secerca masa lalu untuk masa depan

Ketika tahun 2007, kelulusan diniyyah tepatnya. Rasanya senang sekali karena akan segera melanjutkan pendidikan ke pesantren Cibegol. Kenapa ke cibegol? Karena salah satu guru di sana adalah pamanku, dia mengatakan kalau Cibegol itu bagus, bagus dalam ilmu yang di sampaikan serta pencetak generasi yang hebat. Karena juga di Cibegol ada kakak kandungku yang sudah dulu belajar di sana dan sering menceritakan keasyikan tinggal di asrama.

Singkat cerita, hari yang di nantipun tiba, walau belum masuk asrama tapi masih di dugdag (itu sebutan lain dari kata pulang-pergi) kini saya sudah jadi santri Cibegol walau masih jenjang paling bawah yaitu "tajhiziyah" ketika sampai di sekolah kakak saya pun menghampiri sambil mengatakan: "meni teu leres d khoas teh" (maklum anak baru kan !), dan di hari itu pun saya diperkenalkan dengan adik angkatnya teteh (itu yang selalu di sebut keluarga ketemu gede di asrama) hari-haripun saya lalui dengan kepolosan diri, semakin mengenal Cibegol seperti apa dan mengenal teman-teman seperjuangan.

Kini saya menginjak jenjang "Tsanawiyyah" dan waktunya saya merasakan tinggal di asrama, bukan hanya mengandalkan "katanya"...oh ternyata seperti ini tinggal di asrama jauh dari ayah dan mamah namun kita punya keluarga baru d asrama, Kebersamaanpun mulai terasa ketika kita saling mengenal dan saling mengetahui karakter seseorang.

Rutinitas yang wajib di jalani;
Diawali subuh dengan les (walau masih ngantuk tapi ini harus d ikuti), lalu jam 8 pagi nya les lagi, pulang les makan dan antri kamar mandi. Kata kunci yang selalu di ucapkan ketika mau antri mandi "Teh Abdi daftarnya", (serasa mau antri apaan),

Serangkaian kegiatan dilanjutkan ba'da dzuhur, sekolah sampai jam 5 sore, pulang sekolah seperti tadi pagi siap makan serta antri mandi kembali. sholat magrib mesti di mushola (kalo nggak siap-siap ada hukumannya) selesai sholat magrib biasanya suka di sambung dengan kultum atau les sama kakak tingkat 2 dan 3mln sampai isya. Terus di sambung menghapal di kelas sampai jam 10 malam, (kebiasaan saya jika sudah lelah mening tidur aja d kelas)

Wakwawww

Tepat 2 minggu, akhirnya waktu yang di nanti tiba. Ya, setiap dua minggu sekali jadwal pulang ke rumah, ketika mau pulang sama kakak kelas suka di kasih surat yang berisikan surat jadwal pulang, (suratnya harus di balikin lagi ke staf asrama kalo nggak di denda 500 perak)

Dua tahun kemudian, kini saya menginjak jenjang yang lebih tinggi jenjang yang di mana “katanya” bukan untuk main-main lagi. Ya, jenjang "Mu'allimin". Namun saya harus kembali di dugdag kembali, karena ada beberapa hal positif yang harus dilakukan dengan dibujeng,
Di jenjang ini saya mulai merasakan kebersamaan dan kekeluargaan, walau sudah keluar dari asrama namun tetap menjalin hubungan dengan kawan-kawan seperjuangan yang di asrama, kelas 1 Muallimien pun d lewati, 2 muallimien pun di lewati menuju tingkat 3 Muallimien, menuju puncak dari segalanya.

Kebersamaan mulai sangat terasa dengan kawan-kawan seperjuangan apalagi ketika praktek mengajar serta PPL (Praktek Pengenalan Lapangan). Waktupun begitu cepat, hari yang di nanti, namun di takutpun tiba. Ya, wisuda tepat tahun 2013 angkatan XV di wisuda hari di mana semua masa belajar d cibegol berakhir, namun silaturahmi selalu berjalan. Tangis, Pelukan dan perpisahan semua terjadi di hari itu.


Mereka adalah sebagian asatidz cibegol. Mereka yang mendidik dari kita tidak mengtahui menjadi tahu, mereka tak pernah memperlihatkan rasa lelah di hadapan muridnya, karena mereka menginginkan muridnya kuat dan paham akan ilmu yang mereka berikan. Terima kasih guru, kalian adalah cahaya kami di saat kami gelap akan ilmu, kalian adalah petunjuk ketika kami bingung akan perbedaan pemahaman.







Ini adalah foto kawan-kawan seperjuangan, keluarga besar XV. Mungkin ini adalah seragam sekolah terakhir tapi bukan berarti dalam mencari ilmupun berakhir, mungkin kebersaman di sekolah selesai, namun bukan berarti silaturahmi kita usai. kalian layaknya buring yang keluar dari sangkarnya kalian terbang mengikuti arah angin. Tapi ingat, kalian akan merindukan sangkar itu, walau tak akan bisa kembali ke sana untuk mengulang masa lalu.






Ingat kawan di manapun kalian berada nanti, kalian akan merindukan masa itu, kalian sudah di beri ilmu oleh guru-guru kalian, maka itu adalah bekal untuk menata hidup kalian di masa sekarang menuju masa depan.




Bandung, 25 Juni 2015

Dini Nurhakim,

Minggu, 14 Juni 2015

Baca we..

Ekehmmm… Aweu Aweuu

Sore ini, cuaca sangat tak bersahabat, rasanya akan kurang baik bila jalan-jalan sekalipun, aku membuka laptop yang usang, karena lama tak dipakai. Ada hal yang ingin aku ketik untuk ku utarakan kepada teman-temanku yang baik, awalnya aku ragu, seragu-ragunya hingga tiga batang rokok ku hisap menunggu kepastian datang.

Baiklah.. !!

Sesuatu hal yang dilakukan akan jelas dan mempunyai tujuan, untuk setidaknya dapat mencapai cita-cita yang semaksimal mungkin, Alasan mendasar, dengan kami mendirikan sebuah blog ini, supaya ada romantisme yang terjalin, entahlah, awalnya beberapa orang di antara kami sedang khidmat menyaksikan final Champion edisi 2015 sembari bergurau tentang jenuhnya kehidupan semenjak lulus Muallimien beberapa tahun yang lalu. Seperti yang kita ketahui, kehidupan baru pun di mulai. Beberapa orang di antaranya mengambil jalan guna menimba ilmu, sebagian jua lebih memfokuskan guna membangun usaha, sebagian lagi lebih indah dengan naik ke jenjang sakral yaitu pernikahan.

Ada hal yang selalu terniang tentang masa-masa dimana celotehan, berkumpul, selalu berirama tempo dulu serta kejahatan yang terbalut dalam drama sangat sexy. Sekalipun pertemuan bisa menghilangkan rasa rindu, namun ada sebuah hal yang berbeda. Pertemuan selalu singkat dan jarang berbekas, apalagi bagi mereka yang sudah di luar kota.

Kami terus berpikir tentang hal yang akan tetap mempersatukan kita, terasa lebih dekat sekalipun berjauhan, terasa bersentuhan walaupun tak bersua. Saudara Luthfi, sahabat saya mengusulkan dengan menciptakan sebuah blog, guna menampung berbagai aspirasi, konfirasi. History, demontrasi dan berbagai hal lainnya. Hal ini mendapat pertentangan awalnya dari sebagian, dengan alasan hanya buang-buang waktu dan kuota. Tapi saya dan sebagian lainnya sangat setuju dengan gagasan yang beliau ajukan.

Pun, demikian dengan Saudara Aji, yang sekarang menduduki kursi keustadzan bersempak di Lembang terus mendesak saya guna mempercepat pembuatan blog tersebut, akhirnya proklamasi pun dimulai, sebatang rokok Jarcok pun menjadi saksi.

Awalnya, Blog ini akan dikelola oleh saudara Hirvan Juhe, namun, faktor cinta membuatnya harus pindah ke Ibu kota, akhirnya dengan berat hati, namun optimis saya bersama Luthfi akan mengelola blog dalam keadaan sehat, itupun apabila ada kuota.

Meninjau minat yang terbatas dan hanya menghinggapi beberapa orang saja, dirasa blog ini hanya demontrasi yang sia-sia, namun semoga saja ada secerca dan seonggok harapan dan perhatian yang akan tumbuh.

Pribadi mempunyai sudut pandang yang ironi dari perkembangan media sosial yang tak bisa dibendung, yaitu kenyataan bahwa jiwa-jiwa yang kalut akan masalah, mencurahkan keluh kesahnya di berbagai dinding, semisal orang sering menyebutnya PM. Seolah berharap akan ada pihak yang bersimpati. Namun, saya pribadi berkesimpulan bahwa “Maaf “ hal tersebut hanya mempermalukan diri sendiri. “Cuma di read ajah ?” sering jadi problematika paling mencolok. Well, teman-temanku, tak ada salahnya kita menulis hal yang positif serta pada tempatnya supaya berguna bagi orang lain.

Berbagai pertimbangan, karena menulis merupakan hal yang paling penting, pertama kali kita masuk SD yang guru ajarkan setelah membaca adalah menulis, Well, pengalaman dan segala sesuatu akan lengkap bila kita menuliskannya, jangan pernah malu untuk menulis, karena lewat tulisan dunia bisa terguncang.

Kami berharap teman-teman berkontribusi untuk blog ini, menuliskan pengalaman, memposting hasil belajar dan membaca, berbagi jalan usaha, maupun berbagi hal lainnya atau setidaknya ikut membaca. Mudah-mudahan akan ada pertemuan yang panjang di blog ini,
Sebelum saya mengakhiri basa basi saya, saya ucapkan selamat berjuang kepada saudari Sity Rozan begitupula Saudari Dewi Setiawati yang telah resmi menjadi seorang istri. Terima kasih,

Wildan Muhsin,


Dalam labirin kehidupan, 13 Juni 2015

Emma Hasanah "Klasik"

Tepatnya pukul 20.00 WIB terlihat dua sosok yang sedang duduk dan tampaknya sedang asik berbincang-bingcang, terlihat raut muka mereka yang seolah-olah menggambarkan rasa senang dan bahagia. Tapi entah apa yang mereka bicarakan aku hanya sekedar lewat saja, tanpa ingin tau apa yang mereka bicarakan. Tak lama setelah  aku lewat tadi, terdengar suara tegas serta lembut memanggilku, “Moon,” ujarnya Akupun langsung menghampiri mereka dan bertanya,
“Ya, Ada apa ?” lalu ayahku mempersilahkan aku duduk di sampingnya, dengan satu tangan kanan merangkul pundak ku, seraya berkata;
 ”Lusa, udah masuk ke Cibegol, siapkan?.”
 Aku hanya terdiam, serasa waktu berhenti  begitu cepat jari jemariku terasa dingin, jantungku berdetak tak biasanya ingin aku menolaknya, ingin aku berkata kepada kedua orangtua ku  “Aku tak mau yah mah,, “ tetapi melihat raut wajah mereka yang seolah-olah mengharapkan anaknya agar menjadi anak yang sholehah dan bisa selamat dunia akhirat. Malam itu aku pun  menyetujui rencana ayah dan ibuku, aku pun terlihat senang agar orangtua ku terlihat senang karena aku menyetujui rencana mereka akan sekolah di Cibegol.

waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga, pukul 08.30 semua perlengkapan ku pun sudah aku dan ibuku siapkan, dengan  baju krem berpadu  rok berwarna merah marun tak ketinggalan krudung kuning pucat yang aku kenakan pada saat itu, karena kata ayahku aku langsung masuk jam 13.00. Aku pun duduk menunggu ayahku berganti pakaian, setelah menunggu 15 menit  aku pun bergegas pamit  kepada keluargaku dan ibuku, mereka pun tak lupa dengan doa-doa yang mengiringi langkahku saat itu, akupun tak tahan menahan  air yang terus mengalir membasahi pipiku, tak kuasa menahan tangisan karena akan meninggalkan waktu-waktu yang biasanya lebih banyak  bersama mereka, sekarang akan lebih sedikit bertemu.

Aku dan ayahku pun bergegas pergi meninggalkan rumah setelah aku berpamitan kepada seluruh keluargaku, aku tak menyangka hari ini aku akan tidur dan melakukan seluruh aktivitas di PESANTREN PERSATUAN ISLAM 34 CIBEGOL, sungguh seperti mimpi. Setelah di perjalanan memakan waktu sekitar dua jam dari Rajamandala-Soreang yang cukup menguras energi karena harus menahan rasa sakit pada pinggangku, seakan-akan hilang terlihat semakin dekat dengan bangunan putih yang bentuknya seperti huruf L itu, aku merasa ingin bicara kepada ayahku, aku ingin pulang kembali, aku tak mau kesini, seakan pengen kokosehan di jalan tapi tak bisa.

Sesampainya di asrama putri ayahku menitipkan aku kepada kakak keduaku, yang sama sekolah di pesantren ini juga, akupun merelakan aku tidak di ajak pulang lagi, keadaan asrama putri yang sangat sangat paciweuh dengan sandal ember yang ada di asrama, ketika aku bersama kakak ku melewati asrama yang lain, aku pun heran kenapa yang di dalam asrama melihatku seperti artis yang sedang berjalan di catwalk hahaha. bibir merekapun tersenyum dengan ikhlas ketika melihatku berjalan melewati mereka.

Hari-hari telah aku lewati dengan di dampingi  teman dan sampai sekarang pun masih berteman nama nya Risya Aulia, Fety Fatimah, Ira nurdiani dan Rodiah, serta masih banyak lagi (maaf yang gak di sebut) pada saat itu. Awal masuk tidur kami longgar masih bisa mijah sana sini tapi udah banyak yang masuk ulalala… satu karpet yang berukuran hanya dua meter mampu menampung korban bencana sebanyak delapan orang.. bayangkan!! (tetep aja bisa tidur whaha) hari demi hari tlah ku lewati, dengan sabar dan ikhlas. Awal masuk serasa pengen pulang, dengan keadaan yang belum aku sesuaikan, ke wc yang biasanya di rumah gak ngantri sekarang harus ngantri, harus daftar, biasanya nyuci baju sama ibu sekarang sama sendiri, keuangan biasanya minta sekarang harus di menej setiap pemasukan dan pengeluaran, dan kalo gak punya uang?? Pasti weh ngalamun hahaha,  yang biasanya sarapan di bawain jadi beli sendiri. Tapi itu adalah cara untuk kita lebih terbiasa agar hidup lebih mandiri.  

Singkat cerita kelulusan kelas tiga Tsanawiyah dan mulai beranjak ke kelas satu Mua’alimien dengan berseragam kerudung khoas putih,dengan baju warna krem yang panjangnya selutut dan rok berwarna merah bata. Pada saat itu memakai seragam mualimien serasa keren, seperti sekolahan yang waww, dan merasa bangga bahwa saya bisa melewati UAP (Ujian Akhir Pesantren), setelah melewati hari demi hari, tak terasa ujian di semester 1 pun telah tiba pada saat itu sedang berlangsung ujian lisan Bukhori oleh ust Nurdin suasana di cibegol pun pada hari itu berubah drastis yang biasanya istirahat kumpul di kelas ada yang gosip ada yang lagi ngelamun (mikirin aku wkwk) tapi hari ini saat ujian di gelar semua serius ada yang rela gak sarapan dulu, ada yang gak mandi karena sayang nanti hapalannya pada hilang di bawa air haha.

Pada saat itu kelas A sudah selesai melewati dimana saat bertatapan langsung dengan sang ustadz. Tinggal kelas 1B mu’allimien  dan pada saat itu pula yang di panggil pertama adalah teman-teman ku di asrama, dengan ciri khasnya suara ust Nurdin pun  memanggil satu persatu siswa kelas B dinda, hasna, Zizah. itu seingatku, yang masuk gol pertama, mereka pun memasuki ruangan yang hampa dan hanya ada Ust. Nurdin di sana dengan kitab bukhorinya dan tentunya kertas nilai yang akan siap untuk mencatat ketika salah menjawab atau benar. Setelah beberapa menit di dalam mereka pun keluar dengan raut wajah yang gembira, entah karena mereka bisa menjawab atau sebaliknya (hanya mereka yang tau hahahha) mereka bertiga pun  menuju kelas ku dengan raut muka yang sedikit bingung, Mereka langsung menghampiri ku dengan nada yang sedikit tergesa-gesa dengan penuh keyakinan. Dinda pun mulai membuka pembicaraan  
“Mon apa coba ?” dengan muka polosnya
 “Yaa,, kenapa ?” aku menjawab
“Di lemari mon ada kucing yang lagi lahiran,”  dengan nada yang serius
“Bener mon, darahnya kemana-mana, baju mon juga banyak darahnya” Hasna dan Zizah mencoba menyakinkan ucapan Dinda.

Aku hanya terdiam kaget seolah-olah tak percaya apa yang mereka ucapkan, setelah itu aku dan merekapun langsung ke tempat kejadian karena aku percaya kepada mereka, soalnya lemariku pas banget di paling bawah, kejadian kucing ikut ngelahirin pun mungkin aja bisa terjadi. Pintu asrama pun aku buka dengan perasaan yang kacau dan menghayalkan bagaimana dengan nasib baju-bajuku, sesampainya di pintu lemariku dagdigdug rasanya hati ini tak percaya ini bisa terjadi pada lemariku..
“Kreekkk..” suara pintu lemari ku ketika aku buka..
Hampa, tenang, dan masih rapih (gak bau ya) itulah gambaran ketika aku melihat lemariku yang minimalis, aku langsung melihat ke mereka perasaan yang sangat luar biasa kesal dan sangat-sangat menyebalkan. Tetapi mereka seolah-olah senang dengan keadaan ini. Aku langsung keluar menuju pintu asrama yang masih terbuka lebar dan langsung menuju ke bale jamban UG hanya bisa duduk termenung menahan air mata ingin menangis karena mereka telah berhasil menjahili ku. Aku pun berpikir untuk balik menjahili mereka “mereka saja bisa menjahiliku, kenapa aku tidak hahaha” dalam hati jahat ku bicara, tak lama mereka pun mendatangiku di tempat aku duduk termenung sambil merangkul lututku dengan kepala merunduk berpura-pura sedih, kecewa dan kesal.
“Mooonn… maaf iiihh tadi mah ngan heureuy “ ucap Hasna
“Terus kata kalian yang tadi lucu gitu !!” dengan nada marah aku menjawab
“Iya moon maaf tadi kita prustasi dengan bukhori, jadi weh ngejailin emon” Dinda menegaskan alasannya
“Ini mon ada permen mau??” sambil menyodorkan permen
Seketika aku ambil permen itu lalu aku buang, mereka pun kaget dengan tindakan ku seperti itu, suasana di bale pun hening seperti tak ada kehidupan. Tak lama dari itu aku mendengar mereka saling menyalahkan satu sama lain, sebenarnya aku ingin tertawa mendengar mereka tak lama aku pun kasihan melihat mereka yang sangat setia menunggu aku di bale akhirnya aku pun bangkit dan tertawa terbahak-bahak sambil berkata;
 “Kenaaaaaaa dehhhh.. hahahahahah” aku pun menghampiri mereka yang sedang jongkok entah apa yang mereka lakukan,
“Iiihhhhhh… Moon kirain beneran marahnya“ suara Dinda yang kelihatannya seperti yang tidak yakin dengan tindakanku tadi.
“Hahaha.. enggak lah bikin happy aja“, kataku..
Akupun dengan mereka tertawa dan segera pergi meninggalkan bale Jamban karena sudah waktunya kembali ke kelas. Sesampainya di asrama kamipun  menceritakan hal gila tadi kepada teman-teman yang tadi tidak ikut karena sedang serius ujian.

Kejahilan kami pun tak cukup sampai di situ dari mulai gangguin orang yang ngantuk di kelas, jailin temen sekelas, jailin kaka kelas, sampe ngasih minum air asin ke temen yang mau ngisi di depan aula. Hahaha
Semua berkesan, dari mulai Ustadz-Ustadzah nya, santri-santrinaya, hingga kasus-kasus yang mungkin kalo di ceritakan lagi adalah hal-hal yang lucu, dan patut untuk di perbincangkan. (wkwkwk).
Mungkin  jika saat itu aku menolak untuk ke pesantren, hari ini aku tidak dapat merasakan ilmu yang aku peroleh, rasa persahabatan yang banyak rasanya  dan  begitu kuat kepada kalian XV, rasa kadeudeuh rasa kanya’ah kepada Ustazd dan Ustazdah yang sangat sabar dan ikhlas mengajar kami.

Hatur Nuhun.
  
    


Sabtu, 13 Juni 2015

SEPENGGAL CERITA NENG NUR AENI

Alhamdulillah respon positifpun terus berdatangan untuk melestarikan menulis di bolog " LIMA BELAS " , kali ini kita kedatangan seorang wanita yang berparas cantik  dengan kacamatanya yang nyetrik, mungkin tak asing lagi bagi kita semua, siapakah dia??? 
 betul sekali kalau kalian  menjawab bahwa dia adalah Neng Nur Aeni, tap maaf saya tidak akan kasih jempol,tapi saya akan kasih applause saja, nah kali ini dia akan menceritakan bagaimana awal mulanya dia tertarik untuk masuk ke pesantren cibegol dan tidak akan menceritakan awalmulanya dia dilahirkan, bagamana kisahnya??? . . . .
 nah berikut ini bisa kalian simak dengan baik sepenggal cerita NENG NUR AENI .
selamat membaca. :) 

Saya mengenal cibegol dari saudara-saudara saya yang skolah disana, mendengar cerita-cerita lucu mereka, membuat saya tertarik untuk masuk pesantren cibegol ini, saya mengorbankan perpisahan saya di SD demi untuk cepat-cepat masuk pesantren ini, saya di temani ibu saya daftar di cibegol, pertama masuk, saya kaget karna begitu banyak santri beserta santriwatinya, begitu saya masuk serasa jadi yang asing begitu banyak yang melihat dari sudut-sudut kelas , ya itu yang akan jadi kaka kelas saya, saya dan ibu saya pun masuk ke kantor, setelah itu saya tidak langsung masuk asrama, tapi saya diberi kesempatan untuk di bujeng selama tiga hari, pertama masuk saya bingung, karena saya tidak bisa dan biasa memakai kerudung khoas, istilah kerudung di pesantren ini, tiga hari berlalu di bujeng, saya di antar keluarga seperti ayah,ibu,nenek,kakek,adik,dan saudara yg lainnya untuk masuk asrama. Kesan pertama masuk asrama ya begitu masuk, saya kaget, saya tidak mendapatkan tempat tidur, karna kebtulan saya masuk asrama di malam hari, dibantu oleh kaka kelas saya mendapat tempat tidur yang hanya beralaskan karpet karet yang bergambarkan kartun itu, stelah menginjak kelas 2 tsanawiyyah tepatnya di semester dua mau tidak mau saya terpaksa untuk di bujeng kembali karena saya di tuntut untuk membantu ibu sya di rumah yang baru saja melahirkan, saya keluar dari asrama dan sampai kelas 3 mua'llimien di bujeng, mungkin selama selama tsanawiyyah saya orang yang pendiam, banyak sekali suka duka bersama teman2 di cibegol. Terima kasih kalian semua sudah menorehkan kisah dan sejarah dalam kehidupan saya.

Jumat, 12 Juni 2015

Fachri Kh.

Hadist dan Orientalis

A. Pendahuluan

Hadist merupakan salah satu hal yang penting dalam Islam. Tidak hanya berfungsi sebagai pedoman hidup dan sumber hukum bagi kaum muslimin, hadist juga berperan sebagai penafsir bagi Al-Quran baik itu memuqayyadkan yang muthlaq, atau mengkhususkan yang umum bahkan menjelaskan hal yang mujmal. Maka atas dasar tersebut posisi hadist menjadi urgen dan kebutuhan akan adanya hadist menjadi tidak terbantahkan.

Meski demikian, ada pula sekelompok orang yang menolak untuk menjadikan hadits sebagai sumber hukum dan pedoman bagi kaum muslimin. Bahkan diantara mereka ada yang beragama Islam. hal ini cukup aneh dan mestinya menjadi sebuah perhatian karena mengapa ada orang muslim yang justru menolak hadits padahal sudah sangat jelas mengenai hujjah hadits sebagai sumber hukum yang sama dengan al-Quran. Akan tetapi hal itu tentunya tidak terlalu penting untuk dibahas dimakalah ini.

Mengapa tidak terlalu penting? Karena orang muslim yang menolak validitas hadits sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi umat islam itu tidak terlepas dari pengaruh –bahkan cenderung membebek- dari para orientalis. Wal hasil. Argumen, gaya, dan tentunya pandangan mereka terhadap hadist mirip dengan apa yang dikicaukan para orientalis. Dengan dalih ilmiah mereka membongkar pondasi dari bangunan islam satu demi satu, sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal dan akhirnya mereka bermaksud menghancurkan bangunan islam secara keseluruhan.

Diantara orientalis yang paling sering dipakai rujukan dan acuan bagi mereka adalah Ignaz Goldziher seorang professor keturunan yahudi. Joseph Schact dan G.H.A Jyunboll yang mengembangkan teori Schact dengan Common Link nya. Selain mereka, terdapat beberapa orientalis yang cukup berkontribusi dalam “mengkaji” hadist secara tidak langsung namun dengan latar belakang yang berbeda, seperti Fitzgerald dengan bukunya The Alleged Debt of Islamic to Roman law, N.J Coulson dengan karyanya The History of Islamic law dan orientalis lainnya yang memiliki latar belakang hukum dalam mengkaji hadist.

Satu hal yang mesti dicatat adalah mereka mengkaji hadist bukan untuk di Imani, namun mereka mengkaji hadist untuk menghancurkan hadist itu sendiri and they are research a hadith not for interest isamic religion, but for 3 G ; Gospel, Gold and God (Jesus). Begitulah kepentingan mereka ketika mengkaji hadits. Bukan untuk maslahat, namun untuk mafsadat meskipun tidak semua orientalis benar-benar berniat jahat untuk menghancurkan Islam seperti Prof. Arberry yang memuji disertasi dari M.M Azami ketika membantah tesis dari Ignaz Goldziher dan Orientalis lainnya.

Maka makalah ini bertujuan untuk lebih mengenal bagaimana dan seperti apa pergerakan orientalis untuk mengkaji hadits yang tentunya sangat berbeda dengan manhaj para ulama salafi as-Shalih dalam mengkaji hadits nabi SAW karena orientalis berangkat dari keraguan dan berujung kepada keraguan pula. Oleh karena itu tidaklah aneh jika setelah mereka mengkaji hadits yang timbul bukannya semakin iman, tapi malah semakin ingin menghujat validitas dan keotentikan hadits itu sendiri.

Tentunya akan banyak kekurangan dalam makalah ini karena keterbatasan ilmu penulis, kekurangan itu bisa saja berasal dari penyajian yang kurang mengena pada persoalan, atau bahkan kekurangan pada sumber yang dijadikan rujukan penulis karena berbahasa Inggris dan Arab Ilmiyyah yang cukup sulit. Namun meskipun begitu penulis berusaha semaksimal mungkin dalam membuat makalah ini, tentunya sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki oleh penulis.

B. Mengenal Istilah Orientalis

Orientalis secara bahasa berasal dari orient: dalam bahasa prancis orient berarti direction of the rising sun, secara geografis artinya dunia belahan timur. Sedangkan isme adalah : a doctrine theory of system oleh karena itu secara bahasa orientalis bisa diartikan sebagai orang yang mempelajari timur.

Lebih lanjut, orientalis bermakna academic tradition yang memiliki style of thought yang berdasarkan pada perbedaan ontologis dan epistemologis antara Timur (Orient) dan Barat (Occident). Oleh karena itu, mempelajari timur bukan ditinjau dari segi geografisnya atau kebudayaannya tapi lebih dari itu yaitu ideology dan paham ketimuran.

Ada juga yang memberikan teori bahwa Orientalisme juga berarti sebuah sistem pemikiran yang didorong oleh motif politik itu telah menjadikan Timur sebagai obyek yang dikaji dengan kesadaran dan pandangan hidup Barat. Diletakkan sebagai obyek, Timur dianggap statis, pasif, mundur, inferior, cenderung mempraktekkan despotisme tapi mudah untuk ditaklukkan. Dengan definisi ini jelas ada kepentingan dari ociddent terhadap orient dalam politik, wilayah jajahan, pemaksaan ideologi dan life style.

Dari definisi di atas maka jelas bahwa kajian mengenai ketimuran yang dilakukan oleh orientalis tidak lepas dari unsur kepentingan pribadi ataupun lembaga. Jarang sekali ada orientalis yang benar-benar “cinta” terhadap ajaran Islam lalu meneliti hal Ihwal tentang ketimuran dan tidak masuk Islam, meskipun hal itu tidak menutup kemungkinan memang ada orientalis yang menaruh perhatian terhadap Islam namun tidak masuk Islam diantaranya mereka terkenal beberapa nama seperti Karen Amstrong, Montgomery Watt, Alford Welch dll. Namun hal ini tidak lantas menjadikan stigma bagi orientalis itu “baik” sebagaimana yang dikatakan oleh Syamsudin Arif bahwa ada sebuah “pelacuran intelektual” ketika Orientalis mempelajari islam kemudian simpatik namun tidak masuk Islam. jika mereka benar meyakini Islam dan mengamini kebenarannya mengapa tidak masuk Islam? Apakah ada kepentingan yang lain semacam diplomasi atau apa? Justru dengan karya mereka yang simpatik membuat validitas karya mereka diragukan.

C. Apa dan mengapa orientalis mempelajari studi Islam?

Telah disebutkan sebelumnya mengenai “Pelacuran Intelektual”  yang dilakukan orientalis dengan mempelajari Islam namun berusaha untuk meruntuhkan pondasi pondasinya. Tentunya dengan adanya hal itu setiap orang Islam yang mempelajari tentang framework orientalis mengetahui bahwa ada tujuan tertentu dari orientalis yang bersumber dari kebencian (bughda), rasa iri (hasad) sehingga mereka bersikap hipokrit (nifaq) ketika mempelajari Islam meskipun pada akhrinya mungkin tidak semua orientalis bersikap dan bersifat seperti itu.
Syeikh Mustafa as-Siba’I dalam bukunya “al-Isytishraq wal Musytasyriqun ma lahum wama alaihim” menyebutkan bahwa orientalis memiliki beberapa kepentingan dalam mempelajari Islam diantaranya:

a. Dawafi’ diniy (motif agama)
b. Dawafi’ Isti’mary ( motif jajahan)
c. Dawafi’ tijary (motif Industrialisasi dan Perdagangan )
d. Dawafi’ siyasi (motif politik)
e. Dawafi’ ‘ilmy (motif Ilmiah) namun khusus yang terakhir as-Siba’i memberi komentar nafarun qalilunjiddan.

As-Siba’i memaparkan mengenai kepentingan orientalis tentunya bukan tanpa alasan dan fakta yang jelas, nyatanya memang al-Quran telah mengisyaratkan mengenai rasa iri dan benci orang barat (baca Yahudi dan Nashrani) terhadap Islam sehingga ini berpengaruh dalam kajian yang mereka lakukan lan tardha ankal yahudu wala nashara hata tattabia milatahum. Apalagi bukan hanya kepentingan agama, kepentingan politik dan penjajahan turut menghiasi motif mereka, meskipun as-Sibai sendiri tidak menafikan bahwa ada orientalis yang benar-benar mempelajari Islam murni karena kepentingan ilmiah. Namun sekali lagi nafarun qalilun jiddan!

D. Orientalis dan Hadits

Sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi umat Islam, hadits memiliki peran yang sentral bagi kehidpan umat islam. maka secara otomatis, ketika ingin mempelajari Islam, maka harus dipelajari juga ilmu hadits, tentunya tanpa melupakan ilmu lainnya.

Maka dengan alasan ini, orientalis juga punya kepentingan untuk merusak Islam dengan cara merusak keotentikan hadits. Tercatat, gugatan orientalis terhadap hadits dimulai pada abad ke 19 M lewat orientalis yang bernama Alois Sprenger yang mana dia meragukan status validitas hadits. Pendapat ini kemudian diamini oleh rekannya William Muir lewat bukunya The Life of Mahomet and the history of Islam to the era of Higeria.

Selang beberapa kurun, munculah Ignaz Goldziher yang dianggap sebagai “bapak para orientalis” bahkan Goldziher sempat mengikuti kuliah selama satu tahun di Al-Azhar Kairo dari tahun 1873-1874, kemudian hal ini dilakukan juga oleh Snouck Hugronje seorang Orientalis asal belanda. Beliau menuliskan sebuah buku yang seolah dijadikan “kitab suci” bagi para orientalis lainnya yaitu Muhammedanische Studien menurutnya bahwa hadits tiada lain adalah bikinan masyarakat Islam pada saat itu dan bukan berasal dari nabi bahkan dia menuduh bahwa umat islam pada jaman nabi sedikit tau tentang ajarannya the muslim community’s sheer ignorance of islam as religious practice as well as a dogma dengan alasan ini, beliau menyatakan bahwa pada zaman tabiin atau selanjutnya lah hadits ditulis, karena mana mungkin ada sahabat yang tidak tau tentang hukum islam jika hadits itu ada di jaman rasul. Sebagai contoh dia menyodorkan kisah Rafi’ bin Khadij yang salah dalam shalatnya. Kemudian beliau juga mengajukan argumen bahwa dijaman nabi tidak ada kegiatan tulis menulis hadits, beliau berdalil dengan hadits rasul yang melarang untuk menulis hadits. Namun hal ini telah dijawab sebelumnya oleh al-Baghdadi dengan menulis sebuah kitab taqyidul ‘ilm.

Tidak hanya Goldziher yang berpendapat seperti itu, rekan-rekannya pun sesama orientalis mendukung hal itu, tercatat nama David Samuel Margoliouth dengan karyanya The Early Development of Mohammedanism. Atau Alfred Gouillamue dengan karyanya The tradition of Islam: an Introduction to Study of the Hadith Litelature. Yang kesemuanya berpendapat bahwa hadits hanyalah ungkapan dari para tabiin dan bukan dari Rasul hal ini dibuktikan dengan tidak bolehnya menulis hadits pada jaman rasul.

Selanjutnya muncul Joseph Scahcht dengan teori projecting back, teori ini menyerang sanad dan berbeda dengan apa yang dilakukan goldziher yang menyerang matan, justru Scahcht menyerang sanad dan beranggapan bahwa sanad itu hanyalah produk bikinan ahlu hadits dan ahlu kalam . Ini berimplikasi terhadap tuduhan bahwa tidak ada hukum di jaman Rasulullah SAW karena posisi hadits sebagi sumbur hukum bagi Islam.

Langah Schact ini diikuti oleh para orientalis bahkan muslim liberal pun ikut ikutan berpendapat seperti ini, misalnya fazlurrahman mengatakan bahwa rasul sebagai pemimpin masyarakat dan pemimpin perang tidak punya waktu untuk mengurusi perkara kecil semisal “adab buang air”. Begitu pula dengan A.A. Fyzee juga mengamini pendapat tersebut.

Setelah Goldziher, buku The Origins of Muhammad Jurisprudence dianggap sebagai kitab suci kedua bagi para orientalis. Setelah era Schacht tidak terdapat para orientalis yang menonjol dan berpengaruh besar bagi orientalis lainnya, meskipun muncul nama seperti G.H.A Juynboll dalam bidang hadits dengan karyanya The Common Link Phenomenon in the Chains of Transmitters of Traditions: Explanation and Analysis atau H.A.R Gibb dalam bidang sejarah, atau Phillip K Hitti dengan bukunya yang berjudul History of Arab.

E. Beberapa teori Orientalis terhadap Hadits

Sebenarnya pembahasan ini akan lebih dalam pada perkuliahan selanjutnya, namun disini akan dibahas sekilas saja mengenai teori teori orientalis:

a. Common Link, yaitu teori yang menitik beratkan pada link yang gharib dari sebuah sanad dipopulerkan oleh Jyunboll.

b. Projecting Back; yaitu teori yang menolak validitas danad dan menganggapnya sebagai produk ciptaan ahli kalam dan ahli hadits, dipopulerkan oleh Joseph Schacht.

c. Teori pergerakan hadits dan politik, ini dipopulerkan oleh Goldziher yang menyebutkan bahwa hadits itu tergantung pada situasi politik yang ada pada saat itu, jadi bersifat temporal. Tidak hanya oleh Goldziher, namun juga dibela oleh Fazlurrahman lewat heurmeneutiknya.

F. Penutup

Demikianlah pemaparan singkat dari penulis sesuai dengan kapasitas ilmu yang dimiliki penulis, terlepas dari banyaknya kekurangan, semoga makalah singkat ini memberikan manfaat ilmu yang bisa dijadikan bahan perbandingan agar kita tidak semerta-merta mengikuti orientalis begitu saja tanpa melihat motif dibalik para orientalis ketika mempelajari Alquran.

Daftar Pustaka

Majalah Islamia Edisi VIII 2008,
Syamudin Arif, 2008 Orientalis dan Diabolisme Pemikiran Islam ,Jakarta: Gema Insani Press,
Mustafha as-Siba’i al-Isytishraq wal Musytasyriqun ma lahum wama alaihim : Darul wazzaq T.T,
Syamsudin Arif dalam artikel Gugatan Orientalis terhadap Hadits dan Gaungnya di Dunia Islam yang dimuat di Jurnal al-Insan edisi 2,
MM Azhami Studies in Early Hadith Literature Indianapolis : American True Publications Cetakan ketiga tahun 1978,

Schacht, The Origins of Muhammad JurisprudenceI London: Oxford University press 1950.

Risya Aulia Husna

GURU KILLER MOTIVATOR

Pagi itu, pagi yang sedikit mendung membuat kami harus memakai jaket karena cuacanya yang kurang mendukung. Rasanya, lebih enak terlungkup diatas kasur saja dari pada harus pergi ke sekolah melihat angka-angka yang bergelantung di atas white board yang menempel di tembok kelas berwarna ungu itu.
 Tiada hari tanpa harus menahan isi kepala yang hendak keluar saking pusingnya, angka-angka itu selalu menggoda keimananku. Kalaulah habis kesabarnku, pasti aku sudah banting raga ini, kujatuhkan ke bawah tembok keras-keras. Alhamdulillah, aku masih diberi kesbaran oleh Allah SWT untuk hal ini.
Aku mendapatkan pelajaran ini dalam satu minggu 2x. setiap pertemuan aku dan teman-temanku satu kelas harus bergelut dengan rumus dan angka selama 1 jam setengah. Sungguh membuat kepala ini semakin pening, apalagi ketika pelajaran ini di gabung dengan pelajaran sejarah.
Jadi, setelah selesai belajar matematika aku harus mendengarkan sebuah cerita yang isinya sejarah beberapa tahun lalu, dan aku harus mengingat beberapa peristiwa beserta tanggalnya. Sungguh penat kepala dan otak ini.
Suatu hari, “Mi, aku ngantuk banget, saking pusingnya karena aku terlalu banyak melirik whiteboard yang ada di depan itu.” Azka anak rajin yang selalu mengerjakan PR aja sempet ngeluh karena pusing melihat ribuan angka yang menempel di white board itu.
“Hihihi…” aku hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapan azka sang anak Rajin. Jadi, disini aku menyimpulkan bahwa pelajaran ini adalah pelajaran yang paling killer, ditambah lagi gurunya kalo lagi ngejelasin gak pernah lirik murud.
 Jadi, apa yang kita gak ngerti ya gak bakal ngerti seterusnya, kecuali ada teman yang yang sukarela menjelaskan kembali apa yang bapak sampaikan. Itupun kalo ada yang faham.
Braaaaakkkk…
Tiba-tiba saja terdengar suara pukulan dari sang guru killer ini. Kami semua tertunduk takut, segan dan entahlah perasaan ini gak karuan. Kalian tau apa penyebabnya? Ya, bapak ngerasa kalo kita sama sekali gak merhatiin pelajaran bapak pagi ini. Dan itu memang benar.
“Kalian ini kalo udah gede mau jadi apa toh?” logat jawa disertai sedikit emosional orang sundanya dikeluarkan.
Ada sebagian diantara kita yang malah malu, tapi tak sedikit diantara kami malah cekikkikan. Aku sendiri malah gak tahu apa sih yang terjadi sekarang ini? Apa penyebab bapak marah, saking gak merhatiinnya jadi gak tahu apa-apa.
“Maaf pak, kami lancang habisnya kami pusing pak terlalu banyak rumus dan angka…” dengan polosnya Tegar mengungkapkan dan katanya mewakili kami satu kelas. Ohmygod.
“dengar-dengar… pelajaran Matematika ini adalah pelajaran yang tidak bisa dihindari nak. Maksudnya, dari mulai pendidikan terendah seperti PAUD sampai perguruan tinggi kalian tidak akan pernah meninggalkan dan melupakan pelajaran ini.” Dengan sedikit menggebu dan tangannya yang lagi megangin spidol juga ikutan marah mukulin meja.
Kami hanya terduduk sambil tertunduk mendengar ocehan sang bapak killer. Kami dengarkan pembicaraan panjang beliau hingga tiba saatnya kami harus meninggalkan beliau karena bel istirahat tekah berbunyi.
Seminggu berikutnya…
Guru killer gak masuk, ada apa gerangan? “Apakah mengundurkan diri?” Lamunan ini melambung jauh menembus angkasa. Ada ada saja. Pertanyaan yang gak nyambung bahkan itu hanyalah sebuah pengharapan seekor murid yang mulai bosan dengan ribuan angka dan rumus yang memusingkan.
Harapan ini pupus, karena ternyata sang guru killer sedang pergi study banding dengan sekolah di negri sebrang, dan kami disini hanya ingin mengucapkan selamat dan terimakasih karena telah memberi kami setumpuk soal yang kami kurang mengerti.
Huft…sudahlah, biarkan ini menjadi tugas untuk dikerjakan di rumah, minta bantuan papa atau mama mungkin, teringat ketika SD.
Malam gelap gulita, ku pandang langit penuh bintang bertaburan.(kaya lirik lagu deh) terbesit dalam hati kecilku bahwa aku ingin menyentuh bulan itu. Ingin menginjakkan kakiku di bulan yang bersinar itu (padahal sinarnya dikasih matahari).
 Sampai tiba waktunya untuk tidur, atas kuasa Allah aku memimpikan apa yang aku igninkan, tapi, dalam mimpi tersebut yang membawa aku terbang menuju bulan adalah seorang guru matematika yang killer itu.
Keesokan harinya…
Aku bangun dengan iler di sepanjang bantal yang menyengatkan bau khas. Aku bergegas ke kamar mandi dan aku lupa berdo’a. segera aku pakai mukena untuk melaksanakan Shalah subuh.
 Selesai shalat, tak biasanya aku langsung menuju meja tempat belajar dan memilah buku pelajaran hari ini. Kebetulan sekali ada tugas matematika, dengan semangat aku kerjakan. Membutuhkan waktu yang lumayan lama, karena aku sempat tidak mengerti tentang rumus yang ini, yang itu dan banyak sekali sebab aku jarang sekali memperhatikan penjelasan sang guru killer.
Mimpi tadi malam membuat aku semakin rajin dan selalu memperhatikan pelajaran sang guru killer, eh tapi sekarang aku ganti nama gurunya, bukan guru killer tapi sang motivator matematika. Karena kini aku sadar bahwa setiap pelajaran tak luput dari sebuah bahkan berbuah-buah angka.
Terimakasih untuk sang motivator matematika yang sudah membuat aku menjadi seorang guru bagi muridku sekarang, meskipun bukan menjadi astronot tapi setidaknya karena bapak, aku bisa menceritakan pahit manisnya belajar matematika bersama bapak sang guru killer, eh sang motivator matematiaka.