Minggu, 14 Juni 2015

Emma Hasanah "Klasik"

Tepatnya pukul 20.00 WIB terlihat dua sosok yang sedang duduk dan tampaknya sedang asik berbincang-bingcang, terlihat raut muka mereka yang seolah-olah menggambarkan rasa senang dan bahagia. Tapi entah apa yang mereka bicarakan aku hanya sekedar lewat saja, tanpa ingin tau apa yang mereka bicarakan. Tak lama setelah  aku lewat tadi, terdengar suara tegas serta lembut memanggilku, “Moon,” ujarnya Akupun langsung menghampiri mereka dan bertanya,
“Ya, Ada apa ?” lalu ayahku mempersilahkan aku duduk di sampingnya, dengan satu tangan kanan merangkul pundak ku, seraya berkata;
 ”Lusa, udah masuk ke Cibegol, siapkan?.”
 Aku hanya terdiam, serasa waktu berhenti  begitu cepat jari jemariku terasa dingin, jantungku berdetak tak biasanya ingin aku menolaknya, ingin aku berkata kepada kedua orangtua ku  “Aku tak mau yah mah,, “ tetapi melihat raut wajah mereka yang seolah-olah mengharapkan anaknya agar menjadi anak yang sholehah dan bisa selamat dunia akhirat. Malam itu aku pun  menyetujui rencana ayah dan ibuku, aku pun terlihat senang agar orangtua ku terlihat senang karena aku menyetujui rencana mereka akan sekolah di Cibegol.

waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga, pukul 08.30 semua perlengkapan ku pun sudah aku dan ibuku siapkan, dengan  baju krem berpadu  rok berwarna merah marun tak ketinggalan krudung kuning pucat yang aku kenakan pada saat itu, karena kata ayahku aku langsung masuk jam 13.00. Aku pun duduk menunggu ayahku berganti pakaian, setelah menunggu 15 menit  aku pun bergegas pamit  kepada keluargaku dan ibuku, mereka pun tak lupa dengan doa-doa yang mengiringi langkahku saat itu, akupun tak tahan menahan  air yang terus mengalir membasahi pipiku, tak kuasa menahan tangisan karena akan meninggalkan waktu-waktu yang biasanya lebih banyak  bersama mereka, sekarang akan lebih sedikit bertemu.

Aku dan ayahku pun bergegas pergi meninggalkan rumah setelah aku berpamitan kepada seluruh keluargaku, aku tak menyangka hari ini aku akan tidur dan melakukan seluruh aktivitas di PESANTREN PERSATUAN ISLAM 34 CIBEGOL, sungguh seperti mimpi. Setelah di perjalanan memakan waktu sekitar dua jam dari Rajamandala-Soreang yang cukup menguras energi karena harus menahan rasa sakit pada pinggangku, seakan-akan hilang terlihat semakin dekat dengan bangunan putih yang bentuknya seperti huruf L itu, aku merasa ingin bicara kepada ayahku, aku ingin pulang kembali, aku tak mau kesini, seakan pengen kokosehan di jalan tapi tak bisa.

Sesampainya di asrama putri ayahku menitipkan aku kepada kakak keduaku, yang sama sekolah di pesantren ini juga, akupun merelakan aku tidak di ajak pulang lagi, keadaan asrama putri yang sangat sangat paciweuh dengan sandal ember yang ada di asrama, ketika aku bersama kakak ku melewati asrama yang lain, aku pun heran kenapa yang di dalam asrama melihatku seperti artis yang sedang berjalan di catwalk hahaha. bibir merekapun tersenyum dengan ikhlas ketika melihatku berjalan melewati mereka.

Hari-hari telah aku lewati dengan di dampingi  teman dan sampai sekarang pun masih berteman nama nya Risya Aulia, Fety Fatimah, Ira nurdiani dan Rodiah, serta masih banyak lagi (maaf yang gak di sebut) pada saat itu. Awal masuk tidur kami longgar masih bisa mijah sana sini tapi udah banyak yang masuk ulalala… satu karpet yang berukuran hanya dua meter mampu menampung korban bencana sebanyak delapan orang.. bayangkan!! (tetep aja bisa tidur whaha) hari demi hari tlah ku lewati, dengan sabar dan ikhlas. Awal masuk serasa pengen pulang, dengan keadaan yang belum aku sesuaikan, ke wc yang biasanya di rumah gak ngantri sekarang harus ngantri, harus daftar, biasanya nyuci baju sama ibu sekarang sama sendiri, keuangan biasanya minta sekarang harus di menej setiap pemasukan dan pengeluaran, dan kalo gak punya uang?? Pasti weh ngalamun hahaha,  yang biasanya sarapan di bawain jadi beli sendiri. Tapi itu adalah cara untuk kita lebih terbiasa agar hidup lebih mandiri.  

Singkat cerita kelulusan kelas tiga Tsanawiyah dan mulai beranjak ke kelas satu Mua’alimien dengan berseragam kerudung khoas putih,dengan baju warna krem yang panjangnya selutut dan rok berwarna merah bata. Pada saat itu memakai seragam mualimien serasa keren, seperti sekolahan yang waww, dan merasa bangga bahwa saya bisa melewati UAP (Ujian Akhir Pesantren), setelah melewati hari demi hari, tak terasa ujian di semester 1 pun telah tiba pada saat itu sedang berlangsung ujian lisan Bukhori oleh ust Nurdin suasana di cibegol pun pada hari itu berubah drastis yang biasanya istirahat kumpul di kelas ada yang gosip ada yang lagi ngelamun (mikirin aku wkwk) tapi hari ini saat ujian di gelar semua serius ada yang rela gak sarapan dulu, ada yang gak mandi karena sayang nanti hapalannya pada hilang di bawa air haha.

Pada saat itu kelas A sudah selesai melewati dimana saat bertatapan langsung dengan sang ustadz. Tinggal kelas 1B mu’allimien  dan pada saat itu pula yang di panggil pertama adalah teman-teman ku di asrama, dengan ciri khasnya suara ust Nurdin pun  memanggil satu persatu siswa kelas B dinda, hasna, Zizah. itu seingatku, yang masuk gol pertama, mereka pun memasuki ruangan yang hampa dan hanya ada Ust. Nurdin di sana dengan kitab bukhorinya dan tentunya kertas nilai yang akan siap untuk mencatat ketika salah menjawab atau benar. Setelah beberapa menit di dalam mereka pun keluar dengan raut wajah yang gembira, entah karena mereka bisa menjawab atau sebaliknya (hanya mereka yang tau hahahha) mereka bertiga pun  menuju kelas ku dengan raut muka yang sedikit bingung, Mereka langsung menghampiri ku dengan nada yang sedikit tergesa-gesa dengan penuh keyakinan. Dinda pun mulai membuka pembicaraan  
“Mon apa coba ?” dengan muka polosnya
 “Yaa,, kenapa ?” aku menjawab
“Di lemari mon ada kucing yang lagi lahiran,”  dengan nada yang serius
“Bener mon, darahnya kemana-mana, baju mon juga banyak darahnya” Hasna dan Zizah mencoba menyakinkan ucapan Dinda.

Aku hanya terdiam kaget seolah-olah tak percaya apa yang mereka ucapkan, setelah itu aku dan merekapun langsung ke tempat kejadian karena aku percaya kepada mereka, soalnya lemariku pas banget di paling bawah, kejadian kucing ikut ngelahirin pun mungkin aja bisa terjadi. Pintu asrama pun aku buka dengan perasaan yang kacau dan menghayalkan bagaimana dengan nasib baju-bajuku, sesampainya di pintu lemariku dagdigdug rasanya hati ini tak percaya ini bisa terjadi pada lemariku..
“Kreekkk..” suara pintu lemari ku ketika aku buka..
Hampa, tenang, dan masih rapih (gak bau ya) itulah gambaran ketika aku melihat lemariku yang minimalis, aku langsung melihat ke mereka perasaan yang sangat luar biasa kesal dan sangat-sangat menyebalkan. Tetapi mereka seolah-olah senang dengan keadaan ini. Aku langsung keluar menuju pintu asrama yang masih terbuka lebar dan langsung menuju ke bale jamban UG hanya bisa duduk termenung menahan air mata ingin menangis karena mereka telah berhasil menjahili ku. Aku pun berpikir untuk balik menjahili mereka “mereka saja bisa menjahiliku, kenapa aku tidak hahaha” dalam hati jahat ku bicara, tak lama mereka pun mendatangiku di tempat aku duduk termenung sambil merangkul lututku dengan kepala merunduk berpura-pura sedih, kecewa dan kesal.
“Mooonn… maaf iiihh tadi mah ngan heureuy “ ucap Hasna
“Terus kata kalian yang tadi lucu gitu !!” dengan nada marah aku menjawab
“Iya moon maaf tadi kita prustasi dengan bukhori, jadi weh ngejailin emon” Dinda menegaskan alasannya
“Ini mon ada permen mau??” sambil menyodorkan permen
Seketika aku ambil permen itu lalu aku buang, mereka pun kaget dengan tindakan ku seperti itu, suasana di bale pun hening seperti tak ada kehidupan. Tak lama dari itu aku mendengar mereka saling menyalahkan satu sama lain, sebenarnya aku ingin tertawa mendengar mereka tak lama aku pun kasihan melihat mereka yang sangat setia menunggu aku di bale akhirnya aku pun bangkit dan tertawa terbahak-bahak sambil berkata;
 “Kenaaaaaaa dehhhh.. hahahahahah” aku pun menghampiri mereka yang sedang jongkok entah apa yang mereka lakukan,
“Iiihhhhhh… Moon kirain beneran marahnya“ suara Dinda yang kelihatannya seperti yang tidak yakin dengan tindakanku tadi.
“Hahaha.. enggak lah bikin happy aja“, kataku..
Akupun dengan mereka tertawa dan segera pergi meninggalkan bale Jamban karena sudah waktunya kembali ke kelas. Sesampainya di asrama kamipun  menceritakan hal gila tadi kepada teman-teman yang tadi tidak ikut karena sedang serius ujian.

Kejahilan kami pun tak cukup sampai di situ dari mulai gangguin orang yang ngantuk di kelas, jailin temen sekelas, jailin kaka kelas, sampe ngasih minum air asin ke temen yang mau ngisi di depan aula. Hahaha
Semua berkesan, dari mulai Ustadz-Ustadzah nya, santri-santrinaya, hingga kasus-kasus yang mungkin kalo di ceritakan lagi adalah hal-hal yang lucu, dan patut untuk di perbincangkan. (wkwkwk).
Mungkin  jika saat itu aku menolak untuk ke pesantren, hari ini aku tidak dapat merasakan ilmu yang aku peroleh, rasa persahabatan yang banyak rasanya  dan  begitu kuat kepada kalian XV, rasa kadeudeuh rasa kanya’ah kepada Ustazd dan Ustazdah yang sangat sabar dan ikhlas mengajar kami.

Hatur Nuhun.
  
    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar