Tepatnya
pukul 20.00 WIB terlihat dua sosok yang sedang duduk dan tampaknya sedang asik
berbincang-bingcang, terlihat raut muka mereka yang seolah-olah menggambarkan rasa
senang dan bahagia. Tapi entah apa yang mereka bicarakan aku hanya sekedar
lewat saja, tanpa ingin tau apa yang mereka bicarakan. Tak lama setelah aku lewat tadi, terdengar suara tegas serta
lembut memanggilku, “Moon,” ujarnya Akupun
langsung menghampiri mereka dan bertanya,
“Ya,
Ada apa ?” lalu ayahku mempersilahkan aku duduk di sampingnya, dengan satu
tangan kanan merangkul pundak ku, seraya berkata;
”Lusa, udah masuk ke Cibegol, siapkan?.”
Aku hanya terdiam, serasa waktu berhenti begitu cepat jari jemariku terasa dingin,
jantungku berdetak tak biasanya ingin aku menolaknya, ingin aku berkata kepada
kedua orangtua ku “Aku tak mau yah mah,,
“ tetapi melihat raut wajah mereka yang seolah-olah mengharapkan anaknya agar
menjadi anak yang sholehah dan bisa selamat dunia akhirat. Malam itu aku pun menyetujui rencana ayah dan ibuku, aku pun
terlihat senang agar orangtua ku terlihat senang karena aku menyetujui rencana
mereka akan sekolah di Cibegol.
waktu
yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga, pukul 08.30 semua perlengkapan
ku pun sudah aku dan ibuku siapkan, dengan
baju krem berpadu rok berwarna
merah marun tak ketinggalan krudung kuning pucat yang aku kenakan pada saat
itu, karena kata ayahku aku langsung masuk jam 13.00. Aku pun duduk menunggu
ayahku berganti pakaian, setelah menunggu 15 menit aku pun bergegas pamit kepada keluargaku dan ibuku, mereka pun tak
lupa dengan doa-doa yang mengiringi langkahku saat itu, akupun tak tahan
menahan air yang terus mengalir
membasahi pipiku, tak kuasa menahan tangisan karena akan meninggalkan
waktu-waktu yang biasanya lebih banyak bersama
mereka, sekarang akan lebih sedikit bertemu.
Aku
dan ayahku pun bergegas pergi meninggalkan rumah setelah aku berpamitan kepada
seluruh keluargaku, aku tak menyangka hari ini aku akan tidur dan melakukan
seluruh aktivitas di PESANTREN PERSATUAN ISLAM 34 CIBEGOL, sungguh seperti
mimpi. Setelah di perjalanan memakan waktu sekitar dua jam dari Rajamandala-Soreang yang cukup menguras energi karena harus menahan rasa sakit pada
pinggangku, seakan-akan hilang terlihat semakin dekat dengan bangunan putih yang
bentuknya seperti huruf L itu, aku merasa ingin bicara kepada ayahku, aku ingin
pulang kembali, aku tak mau kesini, seakan pengen kokosehan di jalan tapi
tak bisa.
Sesampainya
di asrama putri ayahku menitipkan aku kepada kakak keduaku, yang sama sekolah
di pesantren ini juga, akupun merelakan aku tidak di ajak pulang lagi, keadaan
asrama putri yang sangat sangat paciweuh dengan sandal ember yang ada di
asrama, ketika aku bersama kakak ku melewati asrama yang lain, aku pun heran
kenapa yang di dalam asrama melihatku seperti artis yang sedang berjalan di catwalk hahaha. bibir merekapun
tersenyum dengan ikhlas ketika melihatku berjalan melewati mereka.
Hari-hari
telah aku lewati dengan di dampingi teman
dan sampai sekarang pun masih berteman nama nya Risya Aulia, Fety Fatimah, Ira
nurdiani dan Rodiah, serta masih banyak lagi (maaf yang gak di sebut) pada saat
itu. Awal masuk tidur kami longgar masih bisa mijah sana sini tapi udah
banyak yang masuk ulalala… satu karpet yang berukuran hanya dua meter mampu menampung
korban bencana sebanyak delapan orang.. bayangkan!! (tetep aja bisa tidur whaha)
hari demi hari tlah ku lewati, dengan sabar dan ikhlas. Awal masuk serasa
pengen pulang, dengan keadaan yang belum aku sesuaikan, ke wc yang biasanya di
rumah gak ngantri sekarang harus ngantri, harus daftar, biasanya nyuci baju
sama ibu sekarang sama sendiri, keuangan biasanya minta sekarang harus di menej
setiap pemasukan dan pengeluaran, dan kalo gak punya uang?? Pasti weh ngalamun
hahaha, yang biasanya sarapan di bawain
jadi beli sendiri. Tapi itu adalah cara untuk kita lebih terbiasa agar hidup
lebih mandiri.
Singkat
cerita kelulusan kelas tiga Tsanawiyah dan mulai beranjak ke kelas satu Mua’alimien
dengan berseragam kerudung khoas putih,dengan baju warna krem yang panjangnya
selutut dan rok berwarna merah bata. Pada saat itu memakai seragam mualimien
serasa keren, seperti sekolahan yang waww, dan merasa bangga bahwa saya bisa
melewati UAP (Ujian Akhir Pesantren), setelah melewati hari demi hari, tak
terasa ujian di semester 1 pun telah tiba pada saat itu sedang berlangsung
ujian lisan Bukhori oleh ust Nurdin suasana di cibegol pun pada hari itu
berubah drastis yang biasanya istirahat kumpul di kelas ada yang gosip ada yang
lagi ngelamun (mikirin aku wkwk) tapi hari ini saat ujian di gelar semua serius
ada yang rela gak sarapan dulu, ada yang gak mandi karena sayang nanti
hapalannya pada hilang di bawa air haha.
Pada
saat itu kelas A sudah selesai melewati dimana saat bertatapan langsung dengan
sang ustadz. Tinggal kelas 1B mu’allimien
dan pada saat itu pula yang di panggil pertama adalah teman-teman ku di
asrama, dengan ciri khasnya suara ust Nurdin pun memanggil satu persatu siswa kelas B dinda,
hasna, Zizah. itu seingatku, yang masuk gol pertama, mereka pun memasuki ruangan
yang hampa dan hanya ada Ust. Nurdin di sana dengan kitab bukhorinya dan
tentunya kertas nilai yang akan siap untuk mencatat ketika salah menjawab atau
benar. Setelah beberapa menit di dalam mereka pun keluar dengan raut wajah yang
gembira, entah karena mereka bisa menjawab atau sebaliknya (hanya mereka yang
tau hahahha) mereka bertiga pun menuju
kelas ku dengan raut muka yang sedikit bingung, Mereka langsung menghampiri ku dengan nada
yang sedikit tergesa-gesa dengan penuh keyakinan. Dinda pun mulai membuka
pembicaraan
“Mon apa coba ?” dengan muka polosnya
“Yaa,, kenapa
?” aku menjawab
“Di lemari mon ada kucing yang lagi lahiran,” dengan nada yang serius
“Bener mon, darahnya kemana-mana, baju mon juga
banyak darahnya” Hasna dan Zizah mencoba menyakinkan ucapan Dinda.
Aku
hanya terdiam kaget seolah-olah tak percaya apa yang mereka ucapkan, setelah
itu aku dan merekapun langsung ke tempat kejadian karena aku percaya kepada
mereka, soalnya lemariku pas banget di paling bawah, kejadian kucing ikut
ngelahirin pun mungkin aja bisa terjadi. Pintu asrama pun aku buka dengan
perasaan yang kacau dan menghayalkan bagaimana dengan nasib baju-bajuku,
sesampainya di pintu lemariku dagdigdug rasanya hati ini tak percaya ini bisa
terjadi pada lemariku..
“Kreekkk..” suara pintu lemari ku ketika aku buka..
Hampa,
tenang, dan masih rapih (gak bau ya) itulah gambaran ketika aku melihat
lemariku yang minimalis, aku langsung melihat ke mereka perasaan yang sangat
luar biasa kesal dan sangat-sangat menyebalkan. Tetapi mereka seolah-olah
senang dengan keadaan ini. Aku langsung keluar menuju pintu asrama yang masih
terbuka lebar dan langsung menuju ke bale jamban UG hanya bisa duduk termenung
menahan air mata ingin menangis karena mereka telah berhasil menjahili ku. Aku
pun berpikir untuk balik menjahili mereka “mereka saja bisa menjahiliku, kenapa
aku tidak hahaha” dalam hati jahat ku bicara, tak lama mereka pun mendatangiku
di tempat aku duduk termenung sambil merangkul lututku dengan kepala merunduk
berpura-pura sedih, kecewa dan kesal.
“Mooonn… maaf iiihh tadi mah ngan heureuy “ ucap Hasna
“Terus kata kalian yang tadi lucu gitu !!” dengan
nada marah aku menjawab
“Iya moon maaf tadi kita prustasi dengan bukhori,
jadi weh ngejailin emon” Dinda menegaskan alasannya
“Ini mon ada permen mau??” sambil menyodorkan permen
Seketika
aku ambil permen itu lalu aku buang, mereka pun kaget dengan tindakan ku
seperti itu, suasana di bale pun hening seperti tak ada kehidupan. Tak lama
dari itu aku mendengar mereka saling menyalahkan satu sama lain, sebenarnya aku
ingin tertawa mendengar mereka tak lama aku pun kasihan melihat mereka yang
sangat setia menunggu aku di bale akhirnya aku pun bangkit dan tertawa
terbahak-bahak sambil berkata;
“Kenaaaaaaa
dehhhh.. hahahahahah” aku pun menghampiri mereka yang sedang jongkok entah apa
yang mereka lakukan,
“Iiihhhhhh… Moon kirain beneran marahnya“ suara Dinda
yang kelihatannya seperti yang tidak yakin dengan tindakanku tadi.
“Hahaha.. enggak lah bikin happy aja“, kataku..
Akupun
dengan mereka tertawa dan segera pergi meninggalkan bale Jamban karena sudah waktunya
kembali ke kelas. Sesampainya di asrama kamipun
menceritakan hal gila tadi kepada teman-teman yang tadi tidak ikut karena
sedang serius ujian.
Kejahilan
kami pun tak cukup sampai di situ dari mulai gangguin orang yang ngantuk di
kelas, jailin temen sekelas, jailin kaka kelas, sampe ngasih minum air asin ke
temen yang mau ngisi di depan aula. Hahaha
Semua
berkesan, dari mulai Ustadz-Ustadzah nya, santri-santrinaya, hingga kasus-kasus
yang mungkin kalo di ceritakan lagi adalah hal-hal yang lucu, dan patut untuk
di perbincangkan. (wkwkwk).
Mungkin jika saat itu aku menolak untuk ke pesantren,
hari ini aku tidak dapat merasakan ilmu yang aku peroleh, rasa persahabatan
yang banyak rasanya dan begitu kuat kepada kalian XV, rasa kadeudeuh
rasa kanya’ah kepada Ustazd dan Ustazdah yang sangat sabar dan ikhlas mengajar
kami.
Hatur Nuhun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar