Malaikat penolong, mungkin itulah "titel" yang
pantas disandang oleh mereka. Sosok ini pertama kali saya temukan saat masuk
Pesantren 34 Cibegol. Memang benar, teman-temanku disana sangat luar bisa,
Mereka baik, perhatian, kocak, soleh (mungkin), dan sedikit tak waras.
Namun sosok ini bukan salah satu di antara temanku ini,
bukan juga mereka, yang dengan kebesaran hati, senantiasa mencurahkan waktu dan
tenaga nya, hanya untuk menjadikan kita generasi yang lebih baik dari mereka,
jasa mereka takkan pernah terbayar oleh apapun. Karena waktu yang seharusnya
mereka pakai untuk bekerja atau mencari nafkah untuk menghidupi keluarga
seperti kebanyakan orang, malah mereka pakai untuk mendidik kita. Namun sosok
ini adalah dia yang rela bangun lebih pagi hanya untuk membuatkan jajanan bagi
kami santri RG.
Dia sering kami sebut dengan panggilan "Mak Aas".
Mungkin sebagian santri menganggap dia ini hanya penjual biasa, tapi menurutku
dia sosok yang memegang andil besar bagi pesantren kami. Mengapa? karena 95 %
dari kami santri RG adalah jenis manusia yang buruk dalam manajemen keuangan.
Uang dari mamah untuk satu bulan, ada yang habis dalam tempo dua minggu,
seminggu, tiga hari, dan bahkan ada yang yang bulanan nya itu hanya melintas
saja, ini yang paling extreme.
Lalu, setelah langkah meminjam uang teman dan uang SPP tak
menutupi, kami pun merasa frustasi. Konsentrasi belajar kamipun buyar, karena
perut yang tak terisi. Nah, dan saat kami berada di ambang kehancuran seperti
ini. Dia dengan kerelaan hati nya membantu kita, membolehkan kita mengambil dulu
makanan nya, tanpa mematok batas kita hanya boleh mengambil berapa.
Dia tidak memandang harus seperti apa orang yang
boleh mengambil. Padahal, mungkin saja diantara kami ada yang berperilaku
buruk, namun dia menghiraukan itu semua, karena hati nya tulus ingin membantu
kami para mujahid yang sedang berjihad.
Tak hanya itu, terkadang saat kami sedang ngumpul nongkrong
di tempat nya sambil bercerita tentang keluh kesah kami. Tak jarang dia ikut
"nimbrung" memberikan nasihat nya agar kami dapat menjadi manusia
yang "paham". Sehingga kamipun sudah menganggapnya sebagai ibu kami.
Berkat jasanya pula, kegiatan belajar kamipun dapat
berlangsung dengan khidmat kembali, tanpa harus repot-repot memikirkan si
perut. Sehingga akhirnya sekarang kamipun telah menjadi manusia yang berbakti
kepada agama dan orang tua.
Sebelum nya aku mengira, sosok seperti itu hanya ada satu,
tapi sudut pandanganku berubah saat aku ngekost di kelas tiga Muallimien.
Disana akupun menemukan ibu warung yang kebaikannya hampir sama seperti Mak
Aas. Yang membuatku kaget, sampai sekarang aku bekerjapun, sosok seperti itu
aku temui lagi.
Hingga sampai lah aku pada suatu kesimpulan, bahwa Allah
telah menaburkan malaikat penolong-Nya dimana-mana, saya berpikir hal itu di
tunjukkan betapa sayangnya Dia terhadap hamba-Nya, juga agar kita tidak
memiliki rasa "hariwang" dalam diri kita, selama kita mengimani-Nya,
serta menjalankan ibadah kepada-Nya.
Sekian dari saya, dan maaf jika anda menyesal telah
mengeluarkan waktu anda hanya untuk membaca tulisan seperti ini. Hehehe
Jakarta, 25 Juni 2015,
Fajri Awaludin,
Jakarta, 25 Juni 2015,
Fajri Awaludin,
Kangen mak Aas dan bu kost ... ;-)♥
BalasHapus