Rabu, 24 Juni 2015

Malaikat Penolong

Malaikat penolong, mungkin itulah "titel" yang pantas disandang oleh mereka. Sosok ini pertama kali saya temukan saat masuk Pesantren 34 Cibegol. Memang benar, teman-temanku disana sangat luar bisa, Mereka baik, perhatian, kocak, soleh (mungkin), dan sedikit tak waras.

Namun sosok ini bukan salah satu di antara temanku ini, bukan juga mereka, yang dengan kebesaran hati, senantiasa mencurahkan waktu dan tenaga nya, hanya untuk menjadikan kita generasi yang lebih baik dari mereka, jasa mereka takkan pernah terbayar oleh apapun. Karena waktu yang seharusnya mereka pakai untuk bekerja atau mencari nafkah untuk menghidupi keluarga seperti kebanyakan orang, malah mereka pakai untuk mendidik kita. Namun sosok ini adalah dia yang rela bangun lebih pagi hanya untuk membuatkan jajanan bagi kami santri RG.

Dia sering kami sebut dengan panggilan "Mak Aas". Mungkin sebagian santri menganggap dia ini hanya penjual biasa, tapi menurutku dia sosok yang memegang andil besar bagi pesantren kami. Mengapa? karena 95 % dari kami santri RG adalah jenis manusia yang buruk dalam manajemen keuangan. Uang dari mamah untuk satu bulan, ada yang habis dalam tempo dua minggu, seminggu, tiga hari, dan bahkan ada yang yang bulanan nya itu hanya melintas saja, ini yang paling extreme.

Lalu, setelah langkah meminjam uang teman dan uang SPP tak menutupi, kami pun merasa frustasi. Konsentrasi belajar kamipun buyar, karena perut yang tak terisi. Nah, dan saat kami berada di ambang kehancuran seperti ini. Dia dengan kerelaan hati nya membantu kita, membolehkan kita mengambil dulu makanan nya, tanpa mematok batas kita hanya boleh mengambil berapa.

Dia tidak memandang harus seperti apa orang yang boleh mengambil. Padahal, mungkin saja diantara kami ada yang berperilaku buruk, namun dia menghiraukan itu semua, karena hati nya tulus ingin membantu kami para mujahid yang sedang berjihad.

Tak hanya itu, terkadang saat kami sedang ngumpul nongkrong di tempat nya sambil bercerita tentang keluh kesah kami. Tak jarang dia ikut "nimbrung" memberikan nasihat nya agar kami dapat menjadi manusia yang "paham". Sehingga kamipun sudah menganggapnya sebagai ibu kami.

Berkat jasanya pula, kegiatan belajar kamipun dapat berlangsung dengan khidmat kembali, tanpa harus repot-repot memikirkan si perut. Sehingga akhirnya sekarang kamipun telah menjadi manusia yang berbakti kepada agama dan orang tua.

Sebelum nya aku mengira, sosok seperti itu hanya ada satu, tapi sudut pandanganku berubah saat aku ngekost di kelas tiga Muallimien. Disana akupun menemukan ibu warung yang kebaikannya hampir sama seperti Mak Aas. Yang membuatku kaget, sampai sekarang aku bekerjapun, sosok seperti itu aku temui lagi.

Hingga sampai lah aku pada suatu kesimpulan, bahwa Allah telah menaburkan malaikat penolong-Nya dimana-mana, saya berpikir hal itu di tunjukkan betapa sayangnya Dia terhadap hamba-Nya, juga agar kita tidak memiliki rasa "hariwang" dalam diri kita, selama kita mengimani-Nya, serta menjalankan ibadah kepada-Nya.

Sekian dari saya, dan maaf jika anda menyesal telah mengeluarkan waktu anda hanya untuk membaca tulisan seperti ini. Hehehe


Jakarta, 25 Juni 2015,

Fajri Awaludin,

1 komentar: