Hidup seperti sebuah kertas yang
masih polos tanpa sebuah tinta awal
kehidupan seperti telur yang berada di ujung taduk. Sebuah kisah dan realita
kehidupan seperti tulisan yang di karang
penulis. Aku bagaikan samudra yang lantang terdengar ,bagiku hidup ini seperti
lukisan dan hanyalah imaji seseorang pengarang . sudah lama aku berada dalam
kabut senja dan hanya di temani ilusi
mimpi .bukankah sebuah kepahitan hidup yang di alami seorang yang memiliki moto
hidup bagi samudra,tetapi orang yang memiliki samudra adalah orang yang
memiliki lukisan yang abadi., aku hanya dapat mendengar tapi tak dapat arti
rasa itu .
Sore itu saat
semua barisan mata tertutup diantara bilik kamar , aku mendengar jeritan mereka
“ suara kemana aku berlari” sahut guraman suara hatiku yang mendengar jeritan
itu. Suasana saat itu seperti di tutupi kabut
merah. aku hanya dapat mendengar tapi tak dapat arti rasa itu. Bagiku
hanyalah sebuah jeritan yang terkadang sulit untuk di pahami . lalu sesaat
hilanglah suara jeritan itu dan tiba-tiba
suara tangis terdengar. Apa makna ini
semua?pertanyaan itu muncul lagi dari hatiku . setelah beberapa saaat aku
terdiam, dan memutuskan untuk
menghilang dari kabut merah yang
mencekam hatiku.
Sudahlah lupakan
pertanyaan yang membuatku menelan duri. Terkadang akupun ragu untuk memikirkan
sesuatu , hidup ini memang sebuah teka-teki jika aku salah langkah maka akan
besar akibatnya. Akupun melangkah menuju ke sebuah jalan, tapi jalan ini
menghantarkan ku pada sebuah gemerlapnya
dunia malam .. aku mendengar suara
mereka yang di iringi lampu yang berdendang. Menurutku mereka itu seperti menelan jeruji besi sungguh malang yang
mereka lakukan. Akupun tidak dapat menerka dengan semua ini. Bagiku hanya
sebuah kiasan kata yang mereka nikmati
dan hanya mereka yang mengakhiri “ ya Alloh untuk apa kau menciptakan dunia
ini?” kata ku sambil meneteskan air mata. Sudahkah mereka fikirkan akhir
kehidupan dunia ini?. Tapi tetaplah hidup membuat kehidupan yang nyata dan dibalik sisi ada sebuah rahasia yang belum terungkap di
dalam nya.
Seiring berjalan nya waktu, aku kembali
melangkah menuju sebuah jalan , jalan apakah yang akan ku tempuh delanjutnya,
mungkinkah sebuah gambaran yang ingin di ungkapkan penulis pada sebuah episode
yang ku lihat. Entahlah, kembali aku mendapat senbuah teka-teki dalam stiap jalan yang aku hampiri , lalu aku
terdampar pada sebuah lukisan rakyat
anai-anai. Kulihat hidup mereka seperti
mendapat siksaan yang amat perih. Di manakah letak keadilan bagi
kehidupan mereka?” Tolong kami tidak bisa menghadapi kehidupan ini “ kata
beberapa rakyat Anai-anai yang menjerit dan meronta. Kulihat mereka tidak dapat
menghadapi setiap kobaran api yang menyala. inikah kehidupan yang sebenarnya ?
kata ku dalam pandangan hampa. Di balik sebuah sisi aku melihat sebuah rakyat
tikus yang rakus akan makan. “ hidup kami bagai di surga inilah sebenarnya
keadilan bagi kehidupan kami “ yang memiliki kekuasaan yang abadi” kata
beberapa rakyat tikus yang tertawa gembira. Mereka tidak memikirkan rakyat
anai-anai yang menderita. Kembali aku bertanya apakah mereka hanya memikirkan
kepuasan mereka ? lukisan ini
memberikanku sebuah kepahitan yang mendalam.
Sudahkah aku
mendapat makna tentang lukisan yang kulihat. Akupun masih ragu untuk menerka
semua ini . hatiku masih di ambang
kegelisahan yang membuatku sulit menerima semua ini. Mungkin setiap
gambaran yang kulihat mengandung makna
samudra di dalamnya , apakah hidup
seperti samudra itu, memiliki cobaan yang sangat sulit di hadapi? Akupun tidak
mengerti dengan semua pertanyaan itu. Lalu kembalilah aku di tunjukan pada
sebuah gerbang jalan yang sangat gelap
bahkan hampir tidak memiliki titik terang di dalam nya, jalan apakah ini
? Tanya ku dengan hati yang takut . lalu untuk apa aku di bawa ke tempat yang
hampir membutakan setiap hati dan pikiran.
Mungkinkah ini
lukisan yang terakhir dalam setiap perjalanan yang ku tempuh. Kembalilah aku
pada sebuah permainan teka-teki yang membuatku bertanya-tanya . sejenak
terdiam lalu saaat itulah aku melihat
sebuah kehidupan yang sangat kusam , tak teerlihat kedamaian di dalam nya .
mereka seperti singa yang mengamuk bahkan ingin menjatuhkan musuh –musuhnya.
Apakah mereka hanya menginginkan kekuasaaan yang abdi ? Tanya ku dengan amarah
yng mendalam” akulah raja dari segala raja barang siapa yang ingin bersaing dengan ku
maka bersiaplah untuk merasakan kepahitan “ kata raja singa yang mengaum keras sepeerti halilintar yang yang menyambar. Kau pikir tahta mu adalah surga yang abadi.
Lihatlah dari segala penjuru, kau pun tak sebanding dengan setetes air di
samudera yang luas, sungguh tak berarti lukisan yang hanya menggambarkan
keekuasaaan belaka.
Inikah jalan yang akan aku hadapi dari setiap
perjalanan hidupku, hidup memang tidak memberikan sebuah jaminan untuk
kebahagiaan yang abadi, Tapi bagi ku
hidupku bagai samudra yang tak dapat di samakan
dengan semboyan belaka, aku memandang bagi setiap kehidupan mereka
adalah lukisan . lukisan itu hanya membuat kisah pada setiap episode yang di tayangkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar