Selasa, 30 Juni 2015

Hidup seperti sebuah kertas yang masih polos tanpa sebuah tinta  awal kehidupan seperti telur yang berada di ujung taduk. Sebuah kisah dan realita kehidupan  seperti tulisan yang di karang penulis. Aku bagaikan samudra yang lantang terdengar ,bagiku hidup ini seperti lukisan dan hanyalah imaji seseorang pengarang . sudah lama aku berada dalam kabut senja  dan hanya di temani ilusi mimpi .bukankah sebuah kepahitan hidup yang di alami seorang yang memiliki moto hidup bagi samudra,tetapi orang yang memiliki samudra adalah orang yang memiliki lukisan yang abadi., aku hanya dapat mendengar tapi tak dapat arti rasa itu .
Sore itu saat semua barisan mata tertutup diantara bilik kamar , aku mendengar jeritan mereka “ suara kemana aku berlari” sahut guraman suara hatiku yang mendengar jeritan itu. Suasana saat itu seperti di tutupi kabut  merah. aku hanya dapat mendengar tapi tak dapat arti rasa itu. Bagiku hanyalah sebuah jeritan yang terkadang sulit untuk di pahami . lalu sesaat hilanglah  suara jeritan itu dan tiba-tiba suara  tangis terdengar. Apa makna ini semua?pertanyaan itu muncul lagi dari hatiku . setelah beberapa saaat aku terdiam,  dan memutuskan untuk menghilang  dari kabut merah yang mencekam hatiku.
Sudahlah lupakan pertanyaan yang membuatku menelan duri. Terkadang akupun ragu untuk memikirkan sesuatu , hidup ini memang sebuah teka-teki jika aku salah langkah maka akan besar akibatnya. Akupun melangkah menuju ke sebuah jalan, tapi jalan ini menghantarkan ku  pada sebuah gemerlapnya dunia malam  .. aku mendengar suara mereka yang di iringi lampu yang berdendang. Menurutku mereka itu seperti  menelan jeruji besi sungguh malang yang mereka lakukan. Akupun tidak dapat menerka dengan semua ini. Bagiku hanya sebuah kiasan kata  yang mereka nikmati dan hanya mereka yang mengakhiri “ ya Alloh untuk apa kau menciptakan dunia ini?” kata ku sambil meneteskan air mata. Sudahkah mereka fikirkan akhir kehidupan dunia ini?. Tapi tetaplah hidup membuat kehidupan yang  nyata dan dibalik sisi  ada sebuah rahasia yang belum terungkap di dalam nya.
 Seiring berjalan nya waktu, aku kembali melangkah menuju sebuah jalan , jalan apakah yang akan ku tempuh delanjutnya, mungkinkah sebuah gambaran yang ingin di ungkapkan penulis pada sebuah episode yang ku lihat. Entahlah, kembali aku mendapat senbuah teka-teki  dalam stiap jalan yang aku hampiri , lalu aku terdampar  pada sebuah lukisan rakyat anai-anai. Kulihat hidup mereka seperti  mendapat siksaan yang amat perih. Di manakah letak keadilan bagi kehidupan mereka?” Tolong kami tidak bisa menghadapi kehidupan ini “ kata beberapa rakyat Anai-anai yang menjerit dan meronta. Kulihat mereka tidak dapat menghadapi setiap kobaran api yang menyala. inikah kehidupan yang sebenarnya ? kata ku dalam pandangan hampa. Di balik sebuah sisi aku melihat sebuah rakyat tikus yang rakus akan makan. “ hidup kami bagai di surga inilah sebenarnya keadilan bagi kehidupan kami “ yang memiliki kekuasaan yang abadi” kata beberapa rakyat tikus yang tertawa gembira. Mereka tidak memikirkan rakyat anai-anai yang menderita. Kembali aku bertanya apakah mereka hanya memikirkan kepuasan mereka ?  lukisan ini memberikanku sebuah kepahitan yang mendalam.
Sudahkah aku mendapat makna tentang lukisan yang kulihat. Akupun masih ragu untuk menerka semua ini . hatiku masih di ambang  kegelisahan yang membuatku sulit menerima semua ini. Mungkin setiap gambaran yang kulihat  mengandung makna samudra  di dalamnya , apakah hidup seperti samudra itu, memiliki cobaan yang sangat sulit di hadapi? Akupun tidak mengerti dengan semua pertanyaan itu. Lalu kembalilah aku di tunjukan pada sebuah gerbang  jalan yang  sangat gelap  bahkan hampir tidak memiliki titik terang di dalam nya, jalan apakah ini ? Tanya ku dengan hati yang takut . lalu untuk apa aku di bawa ke tempat yang hampir membutakan setiap hati dan pikiran.
Mungkinkah ini lukisan yang terakhir dalam setiap perjalanan yang ku tempuh. Kembalilah aku pada sebuah permainan teka-teki yang membuatku bertanya-tanya . sejenak terdiam  lalu saaat itulah aku melihat sebuah kehidupan yang sangat kusam , tak teerlihat kedamaian di dalam nya . mereka seperti singa yang mengamuk bahkan ingin menjatuhkan musuh –musuhnya. Apakah mereka hanya menginginkan kekuasaaan yang abdi ? Tanya ku dengan amarah yng  mendalam” akulah raja  dari segala raja  barang siapa yang ingin bersaing dengan ku maka bersiaplah untuk merasakan kepahitan “ kata raja singa  yang mengaum keras  sepeerti halilintar yang yang menyambar.  Kau pikir tahta mu adalah surga yang abadi. Lihatlah dari segala  penjuru,  kau pun tak sebanding  dengan setetes  air  di samudera yang luas, sungguh tak berarti lukisan yang hanya menggambarkan keekuasaaan belaka.
 Inikah jalan yang akan aku hadapi dari setiap perjalanan hidupku, hidup memang tidak memberikan sebuah jaminan untuk kebahagiaan   yang abadi, Tapi bagi ku hidupku bagai samudra yang tak dapat di samakan  dengan semboyan belaka, aku memandang bagi setiap kehidupan mereka adalah lukisan . lukisan itu hanya membuat kisah pada setiap episode  yang di tayangkan





Tidak ada komentar:

Posting Komentar