Selasa, 09 Juni 2015

Mu'arif

Pemikiran Ahmad Wahib "Pergolakan Pemikiran"


Manusia sejatinya adalah makhluk yang tak pernah puas, selalu saja mencari dan mencari guna apa yang diinginkannya tercapai. Sekalipun apa yang ia inginkan sudah terlaksana, ia akan terus mencari hal lainnya. Itu memang menjadi sunatulloh, karena Sang Kholik telah memberikan akal kepada manusia, sebuah karunia yang tak diberikan kepada makhluk lainnya. Seperti para penghuni kost-an apalagi anak rantau,  mereka selalu berpikir dalam menjalani setiap langkah agar tetap berdiri kokoh sampai hari libur semester tiba. Sama hal dengan Kang Ibn’ Hijar mencari cela bagaimana sebuah buku bisa dibeli oleh Fikri A.

Tak sampai di sana, dalam ranah keagamaan pun manusia terus memutar otak demi menemukan hakikat kebenaran yang sifatnya final. Begitupun apa yang ingin diutarakan oleh sosok Ahmad Wahib, seorang pemikir pembaharuan yang meninggal di usia kepala tiga. Berawal dari kegelisahannya tentang akal yang nisbi sehingga meraih “idealitas” akan selalu berbenturan dengan “realitas”. Dalam artian Wahib mempunyai gagasan Ijtihad Konstektual, dalam pandangannya adalah kepekaan terhadap konteks kondisi Sosio-Kultural dengan teks-teks wahyu. Dari sanalah akan ditemukan maksud sebenarnya. Bukan hanya membaca teks-teks dan memahami apa adanya, akan tetapi sudah melalui proses berpikir dengan memperhatikan suatu Sosio-Kultural tertentu.

Memang pemikiran seperti itu akan dianggap sesat bagi kelompok pemeluk agama Islam tertentu, apalagi oleh kalangan awam. Karena dianggap tidak mengimani ayat-ayat. Oleh karena itu Wahib mengusung sikap pendekatan secara berangsur-angsur. Tidak seperti tokoh Islam Liberal terkemuka Ulil Abhsar Abdala, banyak yang mengecam bahwa ia sesat dan murtad, karena wacana-wacana yang Ulil gagas disampaikan dengan cara terlalu frontal dan menggebu-gebu. Tapi tak sedikit pula banyak yang menghargai sikap keberaniannya dalam membuka pemikiran Islam dewasa ini,

Selain itu, upaya pembaharuan ini juga ingin Ia lakukan karena melihat situasi intern kaum muslimin yang saling menghakimi kelompok muslim lainnya, Ia meyakini pertikain yang terjadi karena adanya klaim kelompok yang merasa paling benar, kurangnya sikap toleransi menjadi pemicu kericuhan yang selama ini terjadi, baik di kalangan umat Islam sendiri maupun dengan kelompok non-muslim. Hal ini bermuara pada apa yang terbesit dalam benaknya antara Tuhan dan Aqidah. Menurutnya agama selain memberikan aturan etika dan moral, sebenarnya sebatas jalan menuju Tuhan. Namun agama selalu menjadi tujuan, sehingga akhirnya umat terjebak dalam simbolisme agama ketimbang tujuan haqiqah nya kepada Tuhan. Akibatnya kondisi umat semakin ekslusif dalam memahami agama dan meninggikan klaim paling benar, tak jarang sampai rela mengorbankan nyawa demi menjunjung kebenaran masing-masing, diyakini, faktor dan peran dua orang pendeta yang mengasuhnya, Romo Willenborg dan Romo H.C. Stolk, SJ. Membuka jalan pikirannya untuk bersikap toleransi pada agama lain.

Sebelum berpulang ke tempat yang kekal, Wahib mengeluarkan beberapa gagasan yang cukup Ambuing, gagasan yang asing di mana kawan-kawannyapun sendiri banyak yang menolaknya, Wahib menuturkan: 1. Tidak mengidentikkan Al-Qur’an dengan Islam. 2. Al-Qur’an adalah abstrak 3. Al-Qur’an adalah wajah Islam terbaik pada masanya dan 4. Sumber memahami Islam adalah sejarah Muhammad.

Sementara dalam memahami Islam, Wahib menempatkan akalnya  dengan seobyektif mungkin, menghindari dari interpretasi subyektif dari beberapa orang, dengan keyakinanan wajah islam dalam pandangannya itu sesuai dengan penciptanya yaitu Alloh, namun karena demikian justtru Ia terjebak dalam subyektifitasnya sendiri. Hingga pergulatan yang Ia lakukan dalam memahami Islam bersifat absurditas dan belum mencapai finalnya. Bahkan Wahib menyebut dirinya bukan Wahib, kecuali Ia tiba pada saat sakaratul maut.
Wallohu a’lamu bisshowaab.

Daftar bacaan:
Mu’arif, 2005, Pembaharuan Pemikiran Islam menyelami Butir-butir pemikiran Ahmad Wahib. Bantul: PONDOK EDUKASI.
Abdullah, Taufik, 1987 , Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia, Jakarta: PT. Pustaka LP3ES Indonesia.
Abdullah, Taufik, 1979, Sejarah Lokal di Indonesia, Gadjah Mada University Press.




[1] Disajikan pada diskusi Reguler UKM Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman, 09 Maret 2015
[2] Penulis adalah kurawa LPIK, bergiat juga di Madrasah Rajétna Haté Awéwé

Tidak ada komentar:

Posting Komentar