Pemikiran Ahmad Wahib "Pergolakan Pemikiran"
Manusia sejatinya adalah makhluk yang tak pernah puas,
selalu saja mencari dan mencari guna apa yang diinginkannya tercapai. Sekalipun
apa yang ia inginkan sudah terlaksana, ia akan terus mencari hal lainnya. Itu
memang menjadi sunatulloh, karena Sang Kholik telah memberikan akal kepada
manusia, sebuah karunia yang tak diberikan kepada makhluk lainnya. Seperti para
penghuni kost-an apalagi anak rantau,
mereka selalu berpikir dalam menjalani setiap langkah agar tetap berdiri
kokoh sampai hari libur semester tiba. Sama hal dengan Kang Ibn’ Hijar mencari
cela bagaimana sebuah buku bisa dibeli oleh Fikri A.
Tak sampai di sana, dalam ranah keagamaan pun manusia
terus memutar otak demi menemukan hakikat kebenaran yang sifatnya final.
Begitupun apa yang ingin diutarakan oleh sosok Ahmad Wahib, seorang pemikir
pembaharuan yang meninggal di usia kepala tiga. Berawal dari kegelisahannya
tentang akal yang nisbi sehingga meraih “idealitas” akan selalu berbenturan dengan
“realitas”. Dalam artian Wahib mempunyai gagasan Ijtihad Konstektual,
dalam pandangannya adalah kepekaan terhadap konteks kondisi Sosio-Kultural dengan
teks-teks wahyu. Dari sanalah akan ditemukan maksud sebenarnya. Bukan hanya
membaca teks-teks dan memahami apa adanya, akan tetapi sudah melalui proses
berpikir dengan memperhatikan suatu Sosio-Kultural tertentu.
Memang pemikiran seperti itu akan dianggap sesat bagi
kelompok pemeluk agama Islam tertentu, apalagi oleh kalangan awam. Karena
dianggap tidak mengimani ayat-ayat. Oleh karena itu Wahib mengusung sikap
pendekatan secara berangsur-angsur. Tidak seperti tokoh Islam Liberal terkemuka
Ulil Abhsar Abdala, banyak yang mengecam bahwa ia sesat dan murtad, karena
wacana-wacana yang Ulil gagas disampaikan dengan cara terlalu frontal dan
menggebu-gebu. Tapi tak sedikit pula banyak yang menghargai sikap keberaniannya
dalam membuka pemikiran Islam dewasa ini,
Selain itu, upaya pembaharuan ini juga ingin Ia
lakukan karena melihat situasi intern kaum muslimin yang saling menghakimi
kelompok muslim lainnya, Ia meyakini pertikain yang terjadi karena adanya klaim
kelompok yang merasa paling benar, kurangnya sikap toleransi menjadi pemicu
kericuhan yang selama ini terjadi, baik di kalangan umat Islam sendiri maupun
dengan kelompok non-muslim. Hal ini bermuara pada apa yang terbesit dalam
benaknya antara Tuhan dan Aqidah. Menurutnya agama selain memberikan aturan
etika dan moral, sebenarnya sebatas jalan menuju Tuhan. Namun agama selalu
menjadi tujuan, sehingga akhirnya umat terjebak dalam simbolisme agama
ketimbang tujuan haqiqah nya kepada Tuhan. Akibatnya kondisi umat semakin
ekslusif dalam memahami agama dan meninggikan klaim paling benar, tak jarang
sampai rela mengorbankan nyawa demi menjunjung kebenaran masing-masing,
diyakini, faktor dan peran dua orang pendeta yang mengasuhnya, Romo Willenborg
dan Romo H.C. Stolk, SJ. Membuka jalan pikirannya untuk bersikap toleransi pada
agama lain.
Sebelum berpulang ke tempat yang kekal, Wahib
mengeluarkan beberapa gagasan yang cukup Ambuing, gagasan yang asing di
mana kawan-kawannyapun sendiri banyak yang menolaknya, Wahib menuturkan: 1.
Tidak mengidentikkan Al-Qur’an dengan Islam. 2. Al-Qur’an adalah abstrak 3.
Al-Qur’an adalah wajah Islam terbaik pada masanya dan 4. Sumber memahami Islam
adalah sejarah Muhammad.
Sementara dalam memahami Islam, Wahib menempatkan
akalnya dengan seobyektif mungkin,
menghindari dari interpretasi subyektif dari beberapa orang, dengan keyakinanan
wajah islam dalam pandangannya itu sesuai dengan penciptanya yaitu Alloh, namun
karena demikian justtru Ia terjebak dalam subyektifitasnya sendiri. Hingga
pergulatan yang Ia lakukan dalam memahami Islam bersifat absurditas dan belum
mencapai finalnya. Bahkan Wahib menyebut dirinya bukan Wahib, kecuali Ia tiba
pada saat sakaratul maut.
Wallohu a’lamu bisshowaab.
Daftar bacaan:
Mu’arif, 2005, Pembaharuan Pemikiran Islam
menyelami Butir-butir pemikiran Ahmad Wahib. Bantul: PONDOK EDUKASI.
Abdullah, Taufik, 1987 , Islam dan Masyarakat:
Pantulan Sejarah Indonesia, Jakarta: PT. Pustaka LP3ES Indonesia.
Abdullah, Taufik, 1979, Sejarah Lokal di Indonesia,
Gadjah Mada University Press.
[1] Disajikan pada
diskusi Reguler UKM Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman, 09 Maret 2015
[2] Penulis adalah
kurawa LPIK, bergiat juga di Madrasah Rajétna Haté Awéwé
Tidak ada komentar:
Posting Komentar