Rabu, 24 Juni 2015

Secerca masa lalu untuk masa depan

Ketika tahun 2007, kelulusan diniyyah tepatnya. Rasanya senang sekali karena akan segera melanjutkan pendidikan ke pesantren Cibegol. Kenapa ke cibegol? Karena salah satu guru di sana adalah pamanku, dia mengatakan kalau Cibegol itu bagus, bagus dalam ilmu yang di sampaikan serta pencetak generasi yang hebat. Karena juga di Cibegol ada kakak kandungku yang sudah dulu belajar di sana dan sering menceritakan keasyikan tinggal di asrama.

Singkat cerita, hari yang di nantipun tiba, walau belum masuk asrama tapi masih di dugdag (itu sebutan lain dari kata pulang-pergi) kini saya sudah jadi santri Cibegol walau masih jenjang paling bawah yaitu "tajhiziyah" ketika sampai di sekolah kakak saya pun menghampiri sambil mengatakan: "meni teu leres d khoas teh" (maklum anak baru kan !), dan di hari itu pun saya diperkenalkan dengan adik angkatnya teteh (itu yang selalu di sebut keluarga ketemu gede di asrama) hari-haripun saya lalui dengan kepolosan diri, semakin mengenal Cibegol seperti apa dan mengenal teman-teman seperjuangan.

Kini saya menginjak jenjang "Tsanawiyyah" dan waktunya saya merasakan tinggal di asrama, bukan hanya mengandalkan "katanya"...oh ternyata seperti ini tinggal di asrama jauh dari ayah dan mamah namun kita punya keluarga baru d asrama, Kebersamaanpun mulai terasa ketika kita saling mengenal dan saling mengetahui karakter seseorang.

Rutinitas yang wajib di jalani;
Diawali subuh dengan les (walau masih ngantuk tapi ini harus d ikuti), lalu jam 8 pagi nya les lagi, pulang les makan dan antri kamar mandi. Kata kunci yang selalu di ucapkan ketika mau antri mandi "Teh Abdi daftarnya", (serasa mau antri apaan),

Serangkaian kegiatan dilanjutkan ba'da dzuhur, sekolah sampai jam 5 sore, pulang sekolah seperti tadi pagi siap makan serta antri mandi kembali. sholat magrib mesti di mushola (kalo nggak siap-siap ada hukumannya) selesai sholat magrib biasanya suka di sambung dengan kultum atau les sama kakak tingkat 2 dan 3mln sampai isya. Terus di sambung menghapal di kelas sampai jam 10 malam, (kebiasaan saya jika sudah lelah mening tidur aja d kelas)

Wakwawww

Tepat 2 minggu, akhirnya waktu yang di nanti tiba. Ya, setiap dua minggu sekali jadwal pulang ke rumah, ketika mau pulang sama kakak kelas suka di kasih surat yang berisikan surat jadwal pulang, (suratnya harus di balikin lagi ke staf asrama kalo nggak di denda 500 perak)

Dua tahun kemudian, kini saya menginjak jenjang yang lebih tinggi jenjang yang di mana “katanya” bukan untuk main-main lagi. Ya, jenjang "Mu'allimin". Namun saya harus kembali di dugdag kembali, karena ada beberapa hal positif yang harus dilakukan dengan dibujeng,
Di jenjang ini saya mulai merasakan kebersamaan dan kekeluargaan, walau sudah keluar dari asrama namun tetap menjalin hubungan dengan kawan-kawan seperjuangan yang di asrama, kelas 1 Muallimien pun d lewati, 2 muallimien pun di lewati menuju tingkat 3 Muallimien, menuju puncak dari segalanya.

Kebersamaan mulai sangat terasa dengan kawan-kawan seperjuangan apalagi ketika praktek mengajar serta PPL (Praktek Pengenalan Lapangan). Waktupun begitu cepat, hari yang di nanti, namun di takutpun tiba. Ya, wisuda tepat tahun 2013 angkatan XV di wisuda hari di mana semua masa belajar d cibegol berakhir, namun silaturahmi selalu berjalan. Tangis, Pelukan dan perpisahan semua terjadi di hari itu.


Mereka adalah sebagian asatidz cibegol. Mereka yang mendidik dari kita tidak mengtahui menjadi tahu, mereka tak pernah memperlihatkan rasa lelah di hadapan muridnya, karena mereka menginginkan muridnya kuat dan paham akan ilmu yang mereka berikan. Terima kasih guru, kalian adalah cahaya kami di saat kami gelap akan ilmu, kalian adalah petunjuk ketika kami bingung akan perbedaan pemahaman.







Ini adalah foto kawan-kawan seperjuangan, keluarga besar XV. Mungkin ini adalah seragam sekolah terakhir tapi bukan berarti dalam mencari ilmupun berakhir, mungkin kebersaman di sekolah selesai, namun bukan berarti silaturahmi kita usai. kalian layaknya buring yang keluar dari sangkarnya kalian terbang mengikuti arah angin. Tapi ingat, kalian akan merindukan sangkar itu, walau tak akan bisa kembali ke sana untuk mengulang masa lalu.






Ingat kawan di manapun kalian berada nanti, kalian akan merindukan masa itu, kalian sudah di beri ilmu oleh guru-guru kalian, maka itu adalah bekal untuk menata hidup kalian di masa sekarang menuju masa depan.




Bandung, 25 Juni 2015

Dini Nurhakim,

1 komentar: